Tampilkan postingan dengan label Pengasuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengasuh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

  Makna yang tersurat dalam Doa Asyuro

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

أَللَّـهُمَّ ياَمُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَياَ مُخْرِجَ ذِى النُّوْنِ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَجاَمِعَ شَمْلَ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَغاَفِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَكاَشِفَ ضُرِّ أَيُّوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَساَمِعَ دَعْوَةَ مُوْسَى وَهاَرُوْنَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَخاَلِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَرَحْمَنُ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَطِلْ عُمْرِى فىِ طاَعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضاَكَ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَأَحْيِنِى حَياَةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِى عَلَى الإِسْلاَمِ وَالإِيْماَنِ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى 

سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمْيَنَ

Artinya :

Ya Allah wahai Yang membebaskan segala kesulitan, wahai Yang melepaskan Nabi Yunus Dzin-Nun di hari ‘Asyura, wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ya’kub di hari ‘Asyura/ Wahai yang mengumpulkan anak turun Nabi Ya`qub di hari Asyuro, wahai Yang mengampuni dosa Nabi Daud di hari ‘Asyura, wahai Yang menyembuhkan derita Nabi Ayub di hari ‘Asyura, wahai Yang mendengar do’a Nabi Musa dan Nabi Harun di hari ‘Asyura, wahai Yang menciptakan ruh Nabi Muhammad Saw di hari ‘Asyura, wahai Yang mengasihi dunia dan akhirat panjangkanlah umurku dalam taat ibadah dan cinta kepadaMu, wahai Yang maha Pengasih diantara yang pengasih hidupkan-lah aku dalam kehidupan yang baik, matikanlah aku dalam Islam dan Iman, wahai Yang maha Pengasih diantara yang Pengasih, semoga Allah limpahkan rahmat dan salam atas baginda kita Muhammad juga keluarga beliau dan para sahabat beliau, segala puji bagi Allah Tuhan pengurus sekalian alam.

Doa ini penulis dapatkan dari Tuan Guru Kami Al Faqir  Ki Mas Ahmad Ghozali
yang merupakan doa yang diajarkan Rasulullah kepada Sayyidina Ali KW
dari bait -bait Doa  terselip peistiwa penting yang ada bulan Muharrom terutama pada tanggal 10 Muharrom atau Asyuro diantaranya

وَياَ مُخْرِجَ ذِى النُّوْنِ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

Ya yang Dikeluarkan Allah dari ikan Nun( Nabi Yunus AS) pada hari Asyuro

1. Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari Ikan Nun

Nabi Yunus as pernah mengalami putus asa karena dakwahnya yang terus menerus bahkan bertahun-tahun itu ditolak oleh warga Ninawa. Ia akhirnya naik kapal laut dan dimakan seekor ikan yang bernama ikan Nun (mirip ikan Paus besar).

Di dalam perut ikan itu Nabi Yunus as bertobat.
Peristiwa tobatnya Nabi Yunus terjadi pada bulan Muharam atau tepatnya tanggal 10 Muharam.

Dalam menyampaikan dakwahnya, Nabi Yunus as membimbing kaumnya untuk berbuat kebaikan serta menakutinya dengan kedahsyatan api neraka. Namun, hidayah Allah SWT belum turun kepada kaumnya sehingga tak ada seorang pun penduduk Ninawa yang beriman melainkan hanya sedikit saja.

Nabi Yunus as mulai merasakan keputusasaan dari kaumnya.
Hatinya dipenuhi dengan kemarahan pada kaum Ninawa yang tidak beriman. Kemudian Nabi Yunus as memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.

Nabi Yunus as lantas pergi ke tepi laut.
Saat itulah beliau seakan-akan lupa bahwa tugas seorang Nabi adalah untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Lalu Nabi Yunus as pun menaiki sebuah kapal. Ia tidak menyadari bahwa ia lari dari ketentuan Allah SWT menuju ketentuan Allah SWT yang lain.

Perahu pun berjalan dengan tenangnya pada siang hari.
Namun, pada malam harinya, kondisi alam tiba-tiba berubah menjadi kejam. Angin bertiup sangat kencang dan akhirnya ombak pun menghantam kapal dengan kerasnya.

Dalam keadaan serba panik tersebut, tiba-tiba saja ada seekor ikan besar (ikan Nun, mirip Paus) muncul ke permukaan sehingga seluruh penumpang ingin menceburkan diri ke laut.
"Lompatlah wahai musafir yang misterisu," teriak salah seorang penumpang kepada Nabi Yunus as.

Namun Nabi Yunus as tetap saja berdiri di tempatnya sembari menjaga keseimbangan agar tidak jatuh ke laut. Namun, karena tiupan angin yang makin kencang, beliaupun tak kuasa menahan hingga jatuh ke laut.

Di permukaan laut yang luas itu, tubuh Nabi Yunus as mengambang, lalu mendekatlah seekor ikan Nun raksasa yang melahap tubuh Nabi yunus as. Kemudian ikan itu kembali lagi ke dasar laut.

Ikan dan Tumbuhan ikut Bertasbih.
Nabi Yunus as sangat terkejut karena mendapati dirinya dalam perut sebuah ikan. Dalam keadaan itulah Nabi Yunus as bertobat. Beliau mengucap banyak kalimat tasbih kepada Allah SWT.
Beliau tak henti-hentinya menangis, tidak makan, tidak minum dan tidak bergerak.

Ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di dasar laut mendengar tasbih Nabi Yunus as, kemudian semua makhluk laut pun berkumpul di sekitar ikan Nun sambil mengucapkan tasbih seperti kalimat tasbih Nabi Yunus as ucapkan.

Tobat Nabi Yunus as diterima Allah SWT.
Ikan yang memakan Nabi Ynus as tersentak kaget karena begitu banyaknya ikan dan tumbuhan yang mengucapkan tasbih di dekatnya.
Ikan tersebut ketakutan, hingga dia baru sadar bahwa dirinya telah memakan seorang kekasih Allah SWT. Mendengar tasbih yang merdu itu, ikan Nun pun ikut-ikutan bertasbih.

Ikan Nun sangat ketakutan, namun dalam dirinya dia berkata,
"Mengapa saya harus takut, bukankah yang memerintahkan adalah Allah SWT?"
"Tapi yang aku telan adalah kekasih-Nya, bagaimana ini?"
Dalam keadaan bimbang, ikan Nun makin mengeraskan suara tasbihnya hingga dasar laut menjadi hiruk pikuk.

Kalimat Tasbih Nabi Yunus as adalah sebagai berikut:
"Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah Yang Maha Suci. Sesungguhnya saya termasuk orang yang menganiaya diri sendiri."

Allah SWT telah melihat ketulusan tobat Nabi Yunus as. Allah SWT menurunkan perintah kepada ikan Nun agar emngelurkan Nabi Ynus as ke permukaan laut dan membuangnya di suatu pulau yang ditentukan oleh Allah SWT.

Ikan Nun pun mentaati perintah Allah SWT.
Tubuh Nabi Ynus as kemudian dimuntahkan dan beliau terhempas ke daratan dalam keadaan kurus kering. Namun, atas izin Allah SWT, tubuh Nabi Yunus as bisa kembali sehat dan bugar.

Demikianlah kisah bertasbihnya Nabi Ynus as sehingga selamat dari ikan Paus.
Kisah ini ditegaskan dalam Al Qur'an Surat Ash-Shaaffat ayat 139-145.

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
فَلَوْلا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ
لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

Artinya:
139. Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,
140. (ingatlah) ketika ia lari[1288], ke kapal yang penuh muatan,
141. kemudian ia ikut berundi[1289] lalu Dia Termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
142. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela[1290].
143. Maka kalau Sekiranya Dia tidak Termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,
144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
145. kemudian Kami lemparkan Dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam Keadaan sakit.

Keterangan:
[1288] Yang dimaksud dengan lari di sini ialah pergi meninggalkan kewajiban.
[1289] Undian itu diadakan karena muatan kapal itu sangat penuh. kalau tidak dikurangi mungkin akan tenggelam. oleh sebab itu diadakan undian. siapa yang kalah dalam undian itu dilemparkan kelaut. Yunus a.s. Termasuk orang-orang yang kalah dalam undian tersebut sehingga ia dilemparkan ke laut.
[1290] Sebab Yunus tercela ialah karena Dia lari meninggalkan kaumnya. 

وَياَجاَمِعَ شَمْلَ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

Yang mengumpulkan Anak turun Nabi Ya`qub di Hari Asyuro 
2.Berkumpulnya keluarga Ya`qub
Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, yang tumbuh di daerah Kan’an (Palestina) dengan dikarunia sejumlah 12 anak. Mereka itulah yang disebut asbath (suku) Bani Israil, dan hidup secara badawah (pedesaan) .Nabi Yusuf AS diselamatkan Allah SWT dari sumur tua di padang pasir. Nabi Yusuf dibuang ke sumur oleh para saudaranya yang sangat jahat padanya tepat pada hari asyuro • Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara karena fitnah Zulaihah tepat hari asyuro • Nabi Yakub AS disembuhkan dari penyakit butanya tepat hari Asyuro. ketika ya`qub bertemu yusuf ketika hari Asyuro
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan Yusuf sebagai pejabat penting di Mesir, kemudian meminta kedua orang tua dan saudara-saudaranya untuk berpindah ke Mesir. Di Mesir, keluarga ini hidup di tengah masyarakat watsaniyyun (paganisme). Mereka hidup dengan kehidupan yang baik lagi nikmat di masa Yusuf 
ada sumber lain yang menyatakan bahwa arti doa diatas Wahai yang menyembuhkan derita nabi Ya`qub karena tepat hari itu nabi Ya`qub disembuhkan dari penyakit buta.

وَياَغاَفِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

 Wahai Yang Mengampuni Nabi Dawud Pada hari Asyuro

3.Mengampuni dosa Dawud pada hari Asyuro
Al Quran juga menuturkan kepada kita tentang cerita taubat nabi Daud a.s. seperti diceritakan dalam surah Shaad. Yaitu ketika dua orang yang sedang berselisih datang kepada beliau, dan memasuki mihrab beliau, sehingga beliau terkejut melihat kedua orang itu. Keduanya kemudian berkata:
"Janganlah kamu merasa takut (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain ; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukkilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini, mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan ia mengalahkan aku dalam perdebatan. Daud berkata: Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shaad: 22-25)
Kita lihat, apa kesalahan Nabi Daud dalam kisah ini, yang dia sangka sebagai fitnah, dan cobaan bagi beliau, kemudian beliau beristighfar kepada Rabbnya, serta tunduk sujud dan memohon ampunan.
Yang tampak dalam kisah itu adalah: Nabi Daud a.s. bertindak dengan tergesa-gesa serta tidak meneliti dahulu secara mendalam, sehingga beliau terpengaruhi oleh dorongan emosi ketika mendengar perkataan salah seorang yang sedang berselisih itu. Dan secara tergesa-gesa memutuskan hukum dengan merugikan pihak lain, tanpa terlebih dahulu mendengar alasan-alasannya, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk membela dirinya sendiri. Seorang hakim yang adil hendaknya tidak terperdaya oleh ucapan satu pihak yang sedang berselisih atau penampilannya. Hingga ia telah meneliti dan menyelidikinya dengan seksama, dan mendengar dari seluruh pihak yang berselisih dan adanya dalil yang mendukung ucapan masing-masing. Oleh karena itu ada yang mengatakan: Jika salah seorang yang sedang berselisih datang kepadamu dan sambil memperlihatkan satu matanya yang luka, maka tunggullah hingga engkau juga melihat lawan perkaranya, karena barangkali justru lawannya itu kedua matanya luka!
Oleh karena itu, datang perintah Tuhan agar Daud tidak cepat terpengaruh oleh emosinya dalam menetapkan suatu hukum. Dalam firman Allah SWT:
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia denga adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shaad: 26)
ada sumber yang lain  Pada 10 Muharam ini juga Allah menerima taubat Nabi Daud kerana Nabi Daud merampas isteri orang walaupun bagainda sendiri sudah ada 99 orang isteri, masih lagi ingin isteri orang. Oleh kerana Nabi Daud telah membuatkan si suami rasa kecil hati, maka Allah turunkan dua malaikat menyamar sebagai manusia untuk menegur dan menyindir atas perbuatan Nabi Daud itu. Dengan itu sedarlah Nabi Daud atas perbuatannya dan memohon ampun pada Allah. Sebagai penghormatan kepada Nabi Daud a.s maka Allah mengampunkan baginda pada 10 Muharam. Wallahu a`lam Bi showab

وَياَكاَشِفَ ضُرِّ أَيُّوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

Wahai Yang Menyembuhkan Penyakit Nabi Ayyub di Hari Asyuro

 4. Allah menyembuhkan penyakit kulit Nabi Ayyub

Ayyub adalah salah seorang manusia pilihan dari sejumlah manusia pilihan yang mulia. Allah telah menceritakan dalam kitab-Nya dan memujinya dengan berbagai sifat yang terpuji secara umum dan sifat sabar atas ujian secara khusus. Allah telah mengujinya dengan anaknya, keluarganya dan hartanya, kemudian dengan tubuhnya. Allah telah mengujinya dengan ujian yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun, tetapi ia tetap sabar dalam menunaikan perintah Allah dan terus-menerus bertaubat kepada-Nya.
Setelah Nabi Ayub menderita penyakit kronis dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana sahabat dan keluarganya telah melupakannya, maka ia menyeru Rabbnya, "(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (Al-Anbiya’: 83). Dikatakan kepadanya, "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum." (Shod: 42). Nabi Ayyub AS menghantamkan kakinya, maka memancarlah mata air yang dingin karena hantaman kakinya tersebut. Dikatakan kepadanya, "Minumlah darinya serta mandilah." Nabi Ayyub AS melakukannya, maka Allah Ta’ala menghilangkan penyakit yang menimpa bathinnya dan lahirnya.
Kemudian Allah mengembalikan kepadanya; keluarganya, hartanya, sejumlah ni’mat serta kebaikan yang dikaruniakan kepadanya dalam jumlah yang banyak. Dengan kesabarannya itu maka ia merupakan suri teladan bagi orang-orang yang sabar, penghibur bagi orang-orang yang mendapat ujian atau ditimpa musibah serta pelajaran berharga bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.*
Ketika Ayyub sakit, maka ia menemukan kepingan uang milik istrinya yang diperoleh dari hasil pekerjaannya melakukan sesuatu, sehingga ia bersumpah akan mencambuknya seratus kali cambukan. Kemudian Allah meringankannya dari Nabi Ayyub dan istrinya, seraya dikatakan kepadanya: "Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput)." Yakni seikat jerami, ilalang, tangkai atau yang lainnya sebanyak seratus biji, kemudian pukullah ia dengannya "… dan janganlah kamu melanggar sumpah." (Shod: 44). Yakni melanggar sumpahmu.
Dalam ayat di atas terdapat dalil bahwa kifarat sumpah tidak disyari’atkan kepada seseorang sebelum syari’at kita, serta kedudukan sumpah di hadapan mereka adalah sama dengan nazdar, yang mesti dipenuhi.
Juga dalam ayat tersebut terdapat dalil, bahwa bagi orang yang tidak mungkin dilaksanakan hukuman had atasnya karena kondisinya yang lemah atau alasan lainnya, hendaklah diberlakukan kepadanya hukuman yang disebut dengan hukuman tersebut, karena tujuan dari pemberlakuan hukuman itu ialah pemberian rasa jera, bukan perusakkan atau penghancuran.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, “Sesungguhnya Nabi Allah Ayub AS diuji dengan musibah tersebut selama delapan belas tahun, dimana keluarga dekat serta keluarga yang jauh telah menolaknya dan mengusirnya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya, dimana keduanya telah memberinya makan dan mengunjunginya. Kemudian pada suatu hari salah seorang dari kedua saudaranya itu berkata kepada saudaranya yang satu, ‘Demi Allah, perlu diketahui, bahwa Ayub telah melakukan suatu dosa yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunia ini.’ Sahabatnya itu bertanya, ‘Dosa apakah itu?.’ Saudaranya tadi berkata, ‘Selama delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya, sehingga menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya.’ Ketika keduanya mengunjungi Ayyub AS maka salah seorang dari kedua saudaranya itu tidak dapat menahan kesabarannya, sehingga ia menyampaikan pembicaraan tersebut kepadanya. Ayyub AS menjawab, ‘Aku tidak mengetahui apa yang kamu berdua bicarakan, kecuali Allah Ta’ala telah memberitahukan; bahwa aku diperintah untuk mendatangi dua orang laki-laki yang berselisih supaya keduanya mengingat Allah. Sedang aku akan kembali ke rumahku dan menutup diri dari keduanya, karena merasa benci mengingat Allah, kecuali dalam kebanaran.’”
Nabi Muhammad bersabda, “Ketika Ayyub AS pergi menunaikan hajatnya maka istrinya memegang tangannya hingga selesai. Suatu hari istrinya datang terlambat dan Ayyub AS menerima wahyu, ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.’ (Shad: 42) Ketika istrinya datang dan bermaksud menemuinya, maka ia melayangkan pandangannya dalam keadaan tertegun, dan Ayyub AS menyambutnya dalam rupa dimana Allah telah menyembuhkan penyakit yang dideritanya, dan rupanya sangat tampan seperti semula. Ketika istrinya melihatnya, seraya bertanya, ‘Semoga Allah memberkatimu, apakah engkau melihat nabi Allah yang sedang diuji? Demi Allah, bahwa aku melihatnya mirip denganmu saat ia sehat.’ Ayyub AS menjawab, ‘Sesungguhnya aku ini adalah dia.’ Ketika itu di hadapannya terdapat dua buah gundukan yaitu gundukan gandum dan jewawut. Kemudian Allah mengirim dua buah awan, dimana ketika salah satunya menaungi gundukan gandum, maka tercurah padanya emas hingga penuh, sedangkan pada gundukan jewawut tercurah mata uang hingga penuh.” (HR. Abu Ya’la, 3617, yang dishahihkan al-Hakim (2/581-582) dan Ibnu Hibban (2091) serta al-Albani dalam kitab Shahîh-nya no. 17).
5. yang mendengar seruan Nabi Musa dan Nabi Harun
  yang dimaksud disini adalah kaum bani israil dizaman nabi Musa Dan Harun karena pada masa itu
Allahlah yang  telah menyelamatkan Nabi Musa pada 10 Muharam daripada kekejaman Firaun dengan mengurniakan mukjizat iaitu tongkat yang dapat menjadi ular besar yang memakan semua ular-ular ahli sihir dan menjadikan laut terbelah untuk dilalui oleh tentera Nabi Musa dan terkambus semula apabila dilalui oleh Firaun dan tenteranya. Maka tenggelamlah mereka di Laut Merah. Mukjizat yang dikurniakan Allah kepada Nabi Musa ini merupakan satu penghormatan kepada Nabi Musa a.s

وَياَخاَلِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ

Wahai Yang Menciptakan Ruh Nabi Muhammad di hari Asyuro
 6.Allah menciptakan Ruh Nabi Muhammad di hari Asyuro

Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realiti Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas mahupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud. Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahawa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahawa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahawa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, bilakah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahawa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Kerana itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”
Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahawa kerana Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada roh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal fikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.
Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengurniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahawa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, bilakah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara roh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Kerana itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
Diriwayatkan bahawa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, kerana beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.
`Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhu keduanya meriwayatkan bahawa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahawa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).
Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, nescaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).
Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahawa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Kerana itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.
Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

 Narator  :
Foto SayaAhmad Sammani (Pengasuh Rumah Nderes Sammani)\
Diambil dari berbagai sumber

Sabtu, 08 Juni 2013

KONTROVERSIAL IJTIHAD POLITIK DR.KH.MUSTAIN ROMLY

 

SEBUAH CATATAN IMAGINER AHMAD SAMMANI

 


Membincangkan sosok ini teringat dengan adigium jawa yang berbunyi “wani ora usum”, ditengah budaya latah dan haus akan pencitraan pada manusia maka meneladani beliau memberikan pelajaran hidup tentang ikhlas dan cita-cita. Beliau dikenal sebagai kyai yang kontroversial pada zamannya, terutama sikap politiknya yang bersebrangan dengan arus politik warga nahdliyin, dimana beliau juga sebagai tokoh dalam organisasi Jamiyah tersebut.
Bagi penulis, beliau tidak hanya sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah, tapi lebih dari itu beliau adalah buku hidup pelajaran politik yang wajib menjadi acuan dalam melangkah dan bergerak.
Lahir dalam keluarga pesantren dan dibesarkan serta didik oleh ayahandanya Romo KH Romly Tamim di Rejoso Jombang. beliau banyak menimba ilmu di pesantren yang diasuh di pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Romo KH Romly Tamim adalah seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah dan pembuat istighosah yang dibacakan pada waktu pendirian jamiyah Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau lahir pada tanggal 31 Agustus 1931 di Rejoso Jombang, pada tahun 1949 hingga 1954 melanjutkan belajarnya di semarang dan solo di akademi dakwah al mubalighin. Setelah kembali ke Jombang beliau aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan menjadi pengurus IPNU pusat pada tahun 1954 s/d 1956. Beliau memang mempunyai semangat yang besar untuk berorgainsasi, hingga pada tahun 1958 sang ayahanda Romo KH Romly Tamim meninggal dunia dan beliau ditunjuk menggantikan ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren sekaligus Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah dalam usia 27 tahun. Usia yang yang sangat muda untuk menjadi Mursyid sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren. dan babak baru dalam hidup beliaupun dimulai.
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren, beliau rajin bersilaturahim ke beberapa pondok pesantren baik nasional maupun internasional untuk study banding. Hingga pada puncaknya yakni pada tahun 1963 beliau berkunjung ke timur tengah dan berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir al Jailani di Baghdad. Selain kisah mistik yang penulis tidak berani menuliskan disini, hasil dari ziarohnya tersebut berisi niatan beliau untuk mendirikan sebuah Universitas. Pada tahun 1965 berdirilah Universitas Pertama yang dimiliki sebuah pesantren yang bernama Universitas Darul Ulum. Wani ora Usum, disaat dunia pesantren yang waktu itu hanya fokus pada bidang keislaman, beliau visioner dengan cita-cita mencetak santri yang “berhati masjidil haram, berotak london”. Prestasi beliau yang berhasil membangun sebuah Universitas kemudian diikuti dengan prestasi beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Macau University pada Tahun 1977 sehingga beliau kemudian menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Darul Ulum Jombang.
Dalam kapasitas beliau sebagai Rektor, pada tahun 1981 DR KH Mustain Romly melakukan kunjungan kembali ke timur tengah dan melakukan kerjasama dengan Iraqi University dalam bentuk tukar menukar tenaga pengajar dan dengan Kuwait University dalam bentuk beasiswa studi ke Kuwait.
Selain aktif dalam forum Rektor sedunia seperti yang beliau hadiri pada tahun 1984 di Bangkok, beliau juga beberapa kali mewakili delegasi Indonesia dalam Konfrensi Tingkat Tinggi sidang Organisasi Konfrensi Islam (OKI).
Kiprahnya yang gemilang pada dunia pendidikan dan cita-citanya yang besar pada peningkatan kualitas sumber daya nahdliyin membuat beliau menjadi sosok kyai yang berpengaruh dan disegani, hingga kemudian nama besar itu menjadi kontroversi ketika ijtihad politik beliau yang berbeda dan tidak sejalan dengan mainstream ulama Nahdliyin.
Kita memasuki inti dari tulisan ini, membaca beliau adalah terlalu sulit bagi umum apalagi penulis. Namun mencoba meraba ijtihad politik beliau bukanlah hal yang tabu bukan ?
Pada tahun 1973, DR KH.Mustain Romly menyebrang ke Golkar ditengah arus politik ulama NU yang berafiliasi ke PPP. Kritikan dan hujatan menyertai ijtihad politik beliau yang memilih Golkar (pendukung pemerintah) dan rival dari PPP yang merupakan partai afiliasi warga NU. Beliau mendapatkan “pengucilan” dari para kyai NU yang berada di PPP bahkan sempat ada ketegangan dengan keluarga selatan yang memilih kendaraan politik PPP. Puncaknya pada tahun1977, beliau menjadi Juru kampanye Golkar dan berhasil meyakinkan ribuan jamaahnya untuk memilih dan memenangkan Golkar.
Terjadi gejolak yang luar biasa di kalangan Nahdliyin menyikapi sikap politik dari KH. Mustain Romly, apalagi isu yang dibawah adalah Kyai Mustain Romly berkhianat pada NU dimana Rois am PBNU waktu itu adalah KH Bisri Sjamsuri Denanyar Jombang dan memobilisasi jamaah Thoriqohnya untuk kepentingan Golkar. Sehingga kemudian muncul thoriqoh Cukir (yang berafiliasi dengan PPP) di Cukir Jombang yang dipimpin oleh KH Adlan Ali dan mufaraqah dari thoriqoh Rejoso. Yang mengejutkan pula KH Mustain Romly juga membuat organisasi jamaah Thoriqoh baru yang bernama Jamaah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia (JATMI) dimana beliau menjadi Rois Am dengan beberapa generasi emas sesudahnya seperti al mursyid Prof. DR. KhadirunYahya. Organisasi yang semacam tandingan dari organisasi Jamiyah ahli Thoriqohmu’tabaroh an Nahdliyah yang menaungi Thoriqoh Cukir yang cenderung ke PPP seperti halnya organisasi induknya NU, dimana sebelum itu beliau juga telah lama menjadi Rois am nya. Sikap politik beliau menjadi dilema bagi para jamaahnya, bahkan sebagian besar jama’ah yang tidak nyaman dengan situasi tersebut memilih bergabung dengan Kyai Ustman al Ishaqi Surabaya yang tidak berpolitik.
Bagi penulis ada beberapa catatan mengenai sikap dan gerak politik beliau. Ketika ditanya misal mengenai pilihannya pada Golkar dan tidak bergabung di PPP seperti kebanyakan para kyai, Romo Kyai Mustain menjawab dengan enteng “partai politik bukan agama”. Kata sederhana yang menyimpan visi berpolitik beliau yang luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa partai itu bukan agama yang suci dan sakral tapi beliau mengajarkan bahwa partai adalah alat perjuangan, atau jika ditafsirkan kembali beliau hendak mengatakan NU bukanlah partai dan NU tidak milik dan hanya untuk orang yang partainya didukung oleh NU saja. Diakui atau tidak, Sikap tegas beliau kemudian mengilhami independensi NU dari politik praktis melalui khittah NU pada tahun 1984 di Situbondo. Dengan jawaban itu sebenarnya ada rencana jauh kedepan yang konkrit tentang masa depan generasi sarungan. Sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh KH Achmad Siddiq Jember bahwa “NU tidak kemana-mana tapi dimana-mana”, maka tidak heranlah jika harapan besar KH Mustain Romly untuk mendistribusikan potensi kader NU ke beberapa partai politik termasuk pada Golkar theRulling Party dan PDI. Bagi beliau Partai Politik adalah benda mati dan tergantung manusianya yang menjalankan. Oleh karena itu kader NU idealnya harus berkiprah disemua partai untuk mewarnai dan memperjuangkan pemikiran dan cita-cita NU dalam berbagai partai yang ada. Ini bukan isapan jempol belaka, dalam salah satu kisah, beliau pernah memanggil tiga muridnya yang sudahmenjadi Kyai (Kyai mustain memang kyai yang melahirkan banyak kyai, dari mulai kyai tabib sampai kyai politik), kyai pertama diminta untuk bergabung ke PPP sontak kyai itu gembira, kyai kedua diminta ikut berkhidmad ke golkar dan kyai yang dari jawa tengah diminta beliau untuk bergabung ke PDI, sontak kyai itu menangis dan enggan bergabung dalam jamaah orang abangan, tapi setelah diyakinkan maka beliau sendiko pada permintaan gurunya tersebut.
Sikap beliau yang waktu itu memilih Golkar adalah pilihan cerdas walau dengan resiko cacian dan hinaan. Beliau tidak mundur dan gentar dengan cacian itu, sikap yang menunjukkan bagaimana beliau benar-benar ikhlas dalam melangkah, semata hanya pujian tuhan yangselalu beliau minta dan tidak khawatir sedikitpun dengan citra dan pandangan manusia. Pilihan cerdas dengan bergabung dalam Golkar sang penguasa, yang secara logis dan non logis tak akan mampu dikalahkan oleh PPP. Rasionalis sejati karena memang hegemoni Orde Baru dengan Golkarnya sulit untuk dikalahkan. Bagi beliau membiarkan kekuasaan tanpa diisi oleh orang-orang yang baik adalah suatu kebodohan atau jika tidak dikatakan suatu kedzoliman, untuk itu beliau masuk kedalamnya dan membawa kader-kader Nahdliyin yang potensial untuk berkiprah di kekuasaan dengan harapan kedepan semakin banyak orang NU yang tidak hanya bergerak dalam sektor non formal saja tapi juga dalam sektor formal dengan mengisi berbagai posisi strategis yang porsi nahdliyin di titik itu lemah. Masuk dalam kekuasaan lebih baik dari pada berteriak-teriak diluar, dan saat itu melalui pintu Golkarlah kesempatan untuk berbakti pada Negara menjadi lebih besar. Melalui beliau kebijakan tentang pendidikan pesantren dan modernisasi pesantren menjadi wacana yang menguat didalam kebijakan pemerintahan. Di Golkarpun beliau adalah perumus doktrin golkar “karya kekaryaan” dengan nilai dasar perjuangan organisasi.Tentangi  hal ini secara spontan adik dan pengganti beliau menjadi Mursyid ,K.H. A.Rifai Romly.S.H.  bercerita kepada penulis ketika sedang mijat beliau(Kyai Rifai) ,"Kyai tain iku ajange mlebu Golkar sholat Istikhoroh disik nang Masjidil Harom.(Kyai Tain (panggilan akrab DR.K.H. Mustain Romly)mau mau Golkar  Sholat Istikhoroh dulu di Masjidil Harom)"
Melalui sikap keras dan nylenehnya dalam berpolitik yang wani ora usum itu, membuat banyak Nahdliyin berpikir tentang manfaat dan mudharatnya posisi NU dalam politik praktis. Sehingga menguatlah wacana Khittah NU yang diusung oleh Gus Dur yang juga sahabat dari Romo kyai Mustain Romly. Memang secara realita saat itu bagi organisasi apapun yang tidak mendukung pada pemerintah “digenjet” kenyataan apa yang dialami Rhoma Irama pada masa orde baru sempat mengalami pencekalan di TVRi karena beliau adalah Jurkam PPP.tidak memandang pada idealis apapun tapi pada kenyataan seperti yang digambarkan penulis dikatakan dzolim bila membiarkan Negara tanpa diisi orang yang baik.
Karena keiklasan dan kebijaksanaan beliau tentang hal ini beliau dikecam ulama seluruh Indonesia karena dikatakan ulama pemerintah(baca dunia),begitu kata Ustadz Tohani (imam Khususiyah Kyai Tain sampai sekarang) kepada Penulis. Yang lebih menyedihkan tambah Cak tohani(panggilan Ustadz Tohani) banyak wali santri yang memindahkan anak mereka ke pondok yang lain dikarenakan kebijakan Kyai Tain.
Beliau adalah politikus cerdas melampaui jamannya, pemain politik yang lincah dalam bermanuver. Meminjam kata-kata dari Romo Kyai Abdul Hamid Pasuruan “jika dalam sepak bola saya ini Keeper maka Romo Kyai Musta’in adalah Playmaker”, ya.. beliau adalah playmaker politik yang lincah dengan skill luar biasa, penuh gocekan dan visi bermain yang sempurna. Adapun jabatan yang pernah diamanahkan kepada Dr. KH. Musta’in Romly adalah:
  1. Aggota DPR – MPR RI tahun 1983 sampai wafat.
  2. Wakil ketua DPP MDI tahun 1984 sampai wafat.
  3. Rektor Universitas Darul Ulum tahun 1965 sampai wafat.
  4. Al Mursyid Toriqoh Qodiriyah Wa Naqwsabandiyah tahun 1958.
  5. Ketua Umum Majelis Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum tahun 1958 sampai wafat.
  6. Anggota BKS Perguruan Tinggi Swasta tahun 1983 sampai wafat.
  7. Anggota IAUP ( International Association of University President ) 1981 di Chicago.
  8. Ketua Umum Jam’iyah Thoriqot Mu’tabaroh Indonesia pada tahun 1975 sampai wafat.
Melihat perjalanan karir politik tersebut, langkah politik beliau memang menuai kontroversi. Di samping loncat dari PPP menuju Golkar, hal ini juga berimbas ke dalam internal PPDU, yang terdiri dari banyak kiai. Namun apapun langkah yang beliau tempuh ternyata berdampak sangat positif bagi internal Pondok Pesantren Darul Ulum, NU, NKRI, dan lebih jauh adalah mengandung edukasi yang sangat tinggi dalam membangun pemahaman kaun santri pada khususnya, dan masyarakat (ummat) pada umumnya. Wallahu A’lam.

Sehari sebelum tanggal 1 Jumadil Awal 1405 H atau 21 Januari 1985, beliau berkata pada supirnya “besok disini rame, banyak mentri dan pejabat hadir”, si supir kebingungan karena setahu dia besok tidak ada acara apa-apa di pondok. Benarlah besoknya pondok Darul Ulum Jombang menjadi rame dengan ribuan orang, dan ternyata para mentri dan pejabat yang hadir datang untuk bertakziah dan berbela sungkawa atas wafatnya Romo KH MustainRomly. Beliau meninggal dunia ketika sedang dzikir setelah sholat isya’.
Dalam segala kiprahnya yang panjang dan kontroversial, beliau istiqomah sebagai Mursyid dari sebuah Thoriqoh pada usia yang cukup muda hingga menghadap pada Rabbnya. Seorang yang rela meninggalkan citra suci seorang mursyid dengan terjun ke dunia politik untuk kemajuan nahdliyin dan negara yang ia cintai. Beliau Mursyid Thoriqoh Qodiriah wa Naqsabandiyah dengan sanad :
1.   KH Mustain Romly
2.   KH Ustman al Ishaqi
3.   KH Romly Tamim
4.   KH Moh. Kholil
5.   KH Ahmad Hasbullahibn Muhammad
6.   Syekh Abdul Karim
7.   Syekh Khatib assambasi
8.   Syekh Syamsudin
9.   Syekh Moh. Murod
10.Syekh Abdul Fattah
11.Syekh Kamaluddin
12.Syekh Usman
13.Syekh Abdurrohim
14.Syekh Abu Bakar
15.Syekh Yahya
16.Syekh Hisyamuddin
17.Syekh Waliyuddin
18.Syekh Nuruddin
19.Syekh Zainuddin
20.Syekh Syarafuddin
21.Syekh Syamsuddin
22.Syekh Moh. Hattak
23.Syekh Abdul Qodir alJailani
24.Syekh Abu Said alMubarak al Mahzumi
25.Syekh Abu Hasan Alial Hakkari
26.Syekh Abul Faraj alThusi
27.Syekh Abdul Wahid alTamimi
28.Syekh Abu BakarDulafi al Syibli
29.Syekh Abu Qosim alJunaidi
30.Syekh Sarri AsSaqathi
31.Syekh Syekh Ma’rufal Khurki
32.Syekh Abul Hasan Alibin Musa ar Ridho
33.Syekh Musa al Kadzim
34.Sayyid Ja’far Soddiq
35.Sayyid Muhammad alBaqir
36.Sayyid Zainal Abidin
37.Sayyidina Husein
38.Imam Ali bin AbiThalib KWA
39.Kanjeng NabiMuhammad SAW
lahumulfatihah…

Selasa, 04 Juni 2013


SALAH SATU TUAN GURU KAMI,AL HABIB MUHAMMAD BIN AHMAD BIN HASAN ALJUFRI PAGELARAN GONDANG LEGI MALANG BERFOTO DENGAN SALAH SATU WALI PITU BALI, AL HABIB ALI BIN UMAR BIN ABU BAKAR BILFAQIH NEGARA  BALI






                                                        






K.H.AHMAD RIFAI ROMLY

KH. A. Rifa’i Romly adalah putra pertama dari KH. Romly Tamim dari Ibu Ny. Chodijah, putri Kyai Lukman dari Suwaru Mojoagung. Beliau mulai ikut berkiparah dalam kepemimpinan di Darul ‘Ulum mulai tahun 1972 sebagai Kepala Sekolah SMP Darul ‘Ulum 1. Kemudian secara berturut – turut menjadi Ketua Umum Ikatan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum (IKAPPDAR) pada tahun 1976, Ketua JATMI (Jam’iyah Ahli Thoriqot Indonesia) menggantikan kedudukan almarhum DR. KH. Musta’in Romly, juga menjadi Thoreqot Qodiriyah Wan Naqsabandiyah. Sementara diluar Darul ‘Ulum beliau juga anggota DPRD Tingkat II Jombang mulai tahun 1972 sampai tahun 1992 dan menjadi anggota DPRD Tingkat I mulai tahun 1992 sampai wafatnya.
KH. A. Rifa’i Romly lahir di Rejoso pada tanggal 22 April 1942. Pada masa kecilnya di didik dan diasuh langsung oleh KH. Romly Tamim, baru setelah usia akil baligh melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah, Muallimin (setingkat SLTP) di Darul ‘Ulum, kemudian mondok di Pondok Pesantren termasuk Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. di pondok ini beliau selalu bercerita tentang riyadoh beliau dalam bertholabul ilmi beliau selalu berpuasa dan memasak makanan sendiri malah tidak pernah makan diluar (maksudnya di kantin pondok).
Keduanya, beliau sebelum meninggalkan pondok ini beliau di beri hadiah kambing oleh K.H.Mahrus Aly dan lebih membanggakan beliau diambil menantu oleh ulama kharismatik ini.
Setelah cukup menempa diri di pendidikan tradisional pondok pesantren, pendidikan formalnya dilanjutkan ke Fakultas Ushuluddin di UNDAR dan IAIN Sunan Ampel Kediri. Beliau juga pernah di Fakultas Hukum UNDAR Jombang pada saat perjalanan hidupnya sudah mengabdi di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum. KH. A. Rifa’i Romly adalah sosok yang sangat bersahaja, memandang hidup apa adanya sehingga terkesan tanpa beban. Kalau berceramah kerap kali menggunakan bahasa yang elementer dan akrab dengan bahasa harian orang – orang Jawa Timur, karena mudah dipahami mulai dari kalangan masyarakat tua dikeluarga besar Thoreqot Qodiriyah Wan Naqsabandiyah maupun dikalangan anak – anak santri. Dalam memompa semangat para mustami’nya di medan perjuangan Beliau selalu berujar “ DUK TALI LAYANGAN AWAK SITUK ILANG – ILANGAN “ (Duk tali untuk layang – layang, badan satu perlu dikorbankan sampai darah penghabisan dalam perjuangan).
Keseharian beliau menjadi Imam sholat subuh berjama`ah di Masjid PonPes Darul Ulum. Kitab yang diajarkan pada santri adalah Fathul Qorib walaupun dalam pengajaran beliau kitab ini adalah kitab fiqih terkadang beliau selipin dengan cerita hikmah yang bernuansa tasawuf .yang menjadi kekhasan santri adalah sambil menunggu kedatangan beliau dengan membaca Lafal Hasbunalloh Wa ni`mal Wakil Ni`mal Maula Wa ni`man Nashir .disela-sela kesibukan beliau sebagai anggota DPR Jatim beliau sempatkan bercengkrama dengan para santri di Ndalem tak ada yang gak dapat jatah mijat walaupun santri barupun yang datang ke Ndalem pun dapat giliran.di Mojoagung beliau punya ladang disana ditempatkan beberapa santri untuk menjaga dan menanami dengan ketela dan rami. Penulis salah satu santri yang disuruh menjaga tiap malam dan gak lupa beliau menyuruh belajar buku pelajaran sekolah.
KH. A. Rifa’i Romly wafat pada 12 Desember 1995 (ketika itu Mas Sammani mau menghadapi ujian kelulusan)dengan meninggalkan satu – satunya istri yaitu Ny.H. Ummu Aiman, dan juga meninggalkan delapan putra yaitu : Nawang Wulan Jannatul Firdaus, Cholilatussaidah, Syarif Hidayatulloh, Rokhmatul Akbar, Kenedy Muammar Kadafi, Nurlaili Kamali, Yulinah Kasinah dan Indira Zulikha.
Semoga Allah SWT memberi pengampunan dan imbalan atas segala pengabdiannya. Amin.
           



Senin, 03 Juni 2013

Minggu, 02 Juni 2013

ALMAMATER PENGASUH RUMAH NDERES SAMMANI
 
 









Pesantren Darul ‘Ulum Jombang, ternyata bermula dari tanah petak yang suram. Desa Rejoso Kec. Peterongan tempat berdirinya pesantren ini – yang waktu itu masih berupa hutan – merupakan lembah hitam para penjahat. Para penduduknya kerap berbuat onar. “Pokoknya tingkah laku kesehariannya jauh dari praktek-praktek yang sesuai norma keislaman,” kisah Dra. Hj. Niswah Qonita As’ad.

 
Atas kenyataan itu, tak banyak orang berani melintasi Rejoso. Semuanya ciut nyali. Tapi tak demikian halnya dengan KH. Tamim Irsyad. Pemuda kelahiran Desa Pareng Bangkalan Madura itu, malah tertantang untuk memperbaikinya. Santri KH. Cholil Bangkalan yang sebelumnya sempat singgah di Desa Pajaran Jombang itu pun lebih memilih tinggal dan menjadikan Rejoso sebagai ladang dakwahnya.
Tahun 1885, KH. Tamim Irsyad memulai perjuangannya dengan mengajar mengaji. Dia dibantu menantunya, KH. Cholil – sosok alim yang pernah mengenyam pendidikan agama di bawah bimbingan KH. Hasyim Asy’ari di pesantren Tebuireng Jombang dan KH. Cholil Bangkalan.
Kyai Tamim yang mengajar al-Qur’an dan ilmu hukum syari’at, sementara Kyai Cholil membina mental spiritual santri dengan gemblengan ajaran tasawuf lewat amalan Thareqat Qodiriyah Wannaqsabandiyah. “Dua keilmuan itulah yang akan selalu melekat pada pengajaran di pesantren ini,” ujar Pengasuh Asrama Putri XI Muzamzamah-Chosi’ah ini.
Jejak langkah dakwah dua kyai tersebut seakan menemukan cahaya. Metode dakwah yang mereka kembangkan ternyata diminati banyak orang. Ada sekitar 200 santri yang ingin belajar. Mereka tak hanya datang dari Jombang, tapi juga Mojokerto, Surabaya, Madura bahkan Jawa Tengah. Karena banyak yang berasal dari luar kota, Kyai Tamim pun merasa harus segera mendirikan pondok para santri.
Tahun 1898, Kyai Tamim pun mulai mendirikan sebuah surau dan membangun sebuah tempat lagi pada tahun 1911. “Surau itu sendiri hingga sekarang masih terawat baik dan masih dipakai balai pertemuan dan pengajian,” terang anak keempat pasangan KH. M. As’ad Umar dan Nyai Hj. Azzah As’ad ini.
Pengajaran di pesantren ini pun semakin berkembang pesat seiring datangnya KH. Syafawi – adik KH. Cholil – yang mengajar bidang studi ilmu tafsir dan ilmu alat. Sayang, Kyai Syafawi tak berusia panjang. Pada tahun 1904, dirinya wafat. Dua puluh enam tahun berselang, Kyai Tamim menyusul. Maka, pesantren ini pun hanya menyisakan Kyai Cholil sebagai pengasuh tunggal.
Dalam kesendirianya, Kyai Cholil sempat mengalami jadzab. Untunglah, kondisi itu tak berjalan lama. Dia pun tak sendirian lagi mengasuh pesantren. Sebab tak lama kemudian, KH. Romly Tamim tampil seusai nyantri di Tebuireng dan berguru kepada KH. Akhmad Jufri Karangkates Kediri, serta KH. Zaid Buntet Cirebon. Putra ke dua Kyai Tamim Irsyad itulah yang kemudian meneruskan tugas dan tanggung jawab ayahnya dalam pengajaran ilmu syari’at.
Tahun 1937, Kyai Cholil wafat. Dia digantikan anaknya, KH. Dahlan Cholil yang sempat mengenyam pendidikan agama di Makkah seusai nyanti di Tebuireng. “Kyai Romly dan Kyai Dahlan lah yang kemudian memimpin perkembangan pondok pesantren pada periode pertengahan (1937-1958),” jelas perempuan kelahiran Jombang, 26 Februari 1969 itu.
Di tangan kedua tokoh muda inilah, lembaga pendidikan dakwah islamiyah ini mulai menunjukkan identitasnya. “Mereka memberikan nama untuk pesantren ini dengan sebutan Pondok Pesantren Darul ‘Ulum yang berarti rumah ilmu,” papar alumnus S1 Jurusan PAI Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini.
Pengkajian ilmu pengetahuan pada periode ini semakin pesat dan tidak hanya berkutat pada ilmu agama saja. “Wawasan keilmuan yang bersifat umum mulai diberikan,” tukas suami H. Ali Muhsin, M.Pd.I atau yang biasa dipanggil Gus Ali ini. Pembagian tugas antara tokoh-tokoh yang ada pun semakin jelas dengan dibentuknya struktur organisasi pondok.
Kyai Romli Tamim, urai ibu tiga anak ini, memegang kebijakan umum Pondok Pesantren serta ilmu thasawuf dan thareqat Qodiriyah Wannaqsyabandiyah. Sementara KH. Dahlan Cholil memangku kebijakan khusus siasah (manajemen) dan pengajian syariat plus al-Qur’an. Kyai Ma’soem Cholil – adik Kyai Cholil Dahlan – mengemban organisasi sekolah dan manajemennya. Sementara Kyai Umar Tamim – adik Kyai Romli Tamim – sebagai pembantu aktif di bidang kethareqatan. “Semua tugas tersebut masing-masing dibantu oleh santri-santri senior, seperti KH. Ustman Al Isyaqi yang berasal dari Surabaya dalam praktikum thareqat Qodiriyah Wannaqsyabandiyah,” jelas Dosen PAI Fak. Tarbiyah UNIPDU itu.
Pada tahun 1938, didirikanlah sekolah klasikal yang pertama di Darul ‘Ulum yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyyah Darul ‘Ulum. Sebagai tindak lanjut pendidikan MI tersebut, tahun 1949 didirikanlah Madrasah Mu’allimin (untuk putra). Sementara untuk putri, baru dibangun tahun 1954. “Siswanya waktu sudah mencapai tiga ribu orang,” ujarnya bangga.
Anggota jam’iyah Thareqat Qadiriyah Wannaqsabandiyah pun bertambah jumlahnya. Selain Jombang, jamaah yang tergabung berasal dari daerah-daerah kabupaten lainnya di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, bahkan ada Sulawesi Selatan. Hingga sekarang, kita masih bisa menyaksikan ritualnya di pusat latihan Rejoso jika jam’iyah ini mengadakan perayaan khusus bagi warganya. “Yang lazim adalah tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Sya’ban, bulan Muharrom dan bulan Rabi’ul akhir,” terang pembina pengajian muslimat NU Kec. Peterongan tersebut.
Duka pun menyelimuti keluarga pesantren Darul ‘Ulum, ketika tahun 1958 dua tokoh sentralnya meninggal. Kyai Dahlan wafat di bulan Sya’ban, disusul Kyai Romly pada bulan Ramadhan. Pesantren Darul ‘Ulum pun mengalami kesenjangan kepemimpinan, terutama dalam bidang thareqat dan ilmu al-Qur’an.
Beruntung, Darul ‘Ulum masih memiliki Kyai Ma’soem Cholil. Sayangnya, estafet kepemimpinan kepada Kyai muda ini pun tak berlangsung lama. Sebab tiga tahun berselang, dirinya wafat. Darul ‘Ulum kembali bangkit seiring tampilnya Kyai Bisri Cholil dan KH. Musta’in Romly sebagai pemimpin utama. Darul ‘Ulum pun banyak mengalami perubahan dalam bidang struktur organisasi, bidang bentuk pendidikan maupun dalam bidang sarana fisik.
Pada tahun 1965 didirikanlah Universitas Darul ‘Ulum sebagai kelanjutan wadah pendidikan. Universitas tersebut memiliki enam Fakultas: Alim Ulama (Ushuluddin), Hukum, Sosial-Politik, Pertanian, Ekonomi, serta Ilmu Pendidikan.
Ketika tampuk kepemimpinan dilimpahkan kepada KH. M. As’ad Umar, pesantren ini mengalami masa keemasan. Tugas kelembagaan semakin diperinci sesuai profesi perseorangan yang duduk di personalia lembaga. Maka, selanjutnya di pesantren ini ada tiga lembaga: Yayasan Darul ‘Ulum, Yayasan Universitas Darul ‘Ulum dan Yayasan thareqat Qodiriyah Wannaqsyabandiyah. “Masing-masing yayasan terikat oleh nilai dan norma misi kelembagaan Darul ‘Ulum yang termuat dalam garis besar Khiththah Trisula,” jelasnya.
Sekarang, pesantren ini telah memiliki 16 sekolah formal: MIN, MTsN, MTs Plus, MAN, MA Unggulan, SMP I, SMPN 3 Unggulan, SMA DU I Unggulan BPP-Teknologi, SMA DU II Unggulan BPP-Teknologi (RSNBI), SMA DU III, SMK I & II, SMK TELKOM, Sekolah Tahassus Al-Qur’an, UNIPDU dan UNDAR. Pesantren ini juga mengembangkan sekolah non formal. Diantaranya Pendidikan Kepramukaan, Pendidikan Leadership, Pengajian Weton (lima hari sekali), Pengajian Bandongan dan Sorogan, Pendidikan Qiro’at al-Qur’an dan Pendidikan Kader Organisasi.
Pesantren ini juga ditunjang dengan sarana prasarana yang memadai. Darul ‘Ulum memiliki 14 gedung sekolah formal dengan 108 lokal, dua gedung keterampilan, sembilan aula pertemuan, satu masjid dan sebelas mushala, serta dua kantor pusat dan tiga belas kantor unit. Pesantren ini juga dilengkapi 4 kantin makan, 6 sarana wartel, 1 pusat koperasi, 1 unit kantor Bank, 1 unit Usaha Kesehatan Pondok (UKP), 5 Lab. IPA, 8 Lab. Bahasa dan 1 Lab. Komputer.
Untuk menampung sedikitnya 7.000 santri, telah disediakan 34 gedung asrama dengan total 234 kamar. Bagi mereka yang gemar berolah raga, pesantren telah menyediakan 2 lapangan sepakbola, 8 lapangan bulu tangkis dan 8 lapangan basket, serta 13 lapangan tenis meja. Semua sarana itu semakin lengkap dengan hadirnya gedung Islamic Center dan Rumah Sakit UNIPDU. “Mudah-mudahan kami dapat segera merealisasikan pembangunan yang lebih berkualitas. Sebab, apa yang kami miliki ini masih dibangun di atas tanah seluas 6 Ha dari 40 Ha yang kami miliki,” ucapnya berharap.
Semua siswa yang bersekolah di Darul ‘Ulum wajib tinggal dan mengikuti pelajaran di asrama. Sama seperti pondok beraliran salaf lainnya, selain mengkaji kitab kuning, banyak aturan ketat yang harus dipatuhi para santri. Diantaranya, santri tidak boleh membawa HP dan dilarang merokok. Bagi santri yang berniat membawa Laptop pun harus dititipkan. “Setiap penggunaan fasilitas komputer dan internet, pasti ada yang pengawasnya. Kami telah menyediakan area khusus untuk semua itu,” ujarnya.
Dengan semua fasilitas tersebut, lulusan pesantren Darul ‘Ulum diharapkan tidak hanya fasih dalam ilmu agama, tapi juga menguasai IPTEK dan memiliki mental spiritualitas yang mumpuni. “Sekolah untuk kuasai IPTEK, Asrama guna mendalami ilmu agama, serta pengamalan thareqat Qadiriyah Wannaqsabandiyah buat membentengi dan menyucikan hati,” tandasnya.