Kamis, 02 April 2015



HAKIKAT DZAT (ALLAH) Hakikat Tauhid.

Sesungguhnya Allah adalah nama zat dari Tuhan swt yang diperkenalkan sendiri oleh-Nya. Selain sebagai nama bagi zat Tuhan swt, Allah adalah juga tempat terkumpulnya atau terhimpunnya seluruh sifat yang dikandung zat-Nya, sehingga Allah sebagai sebutan yang utama untuk Tuhan sudah meliputi Tuhan secara keseluruhan yang terdiri dari zat dan sifat-Nya. Hubungan antara zat dan sifat pada hakikatnya adalah hubungan sebab akibat yang saling terkait dan saling menerangkan antara keduanya. Keberadaan sifat disebabkan karena adanya zat dan keberadaan zat hanya bisa dinyatakan dengan adanya sifat, sehingga melalui hubungan tersebut Tuhan telah membukakan satu celah yang bisa dimasuki oleh akal manusia untuk mengetahu hakikat zat-Nya dengan benar. Sebelum melanjutkan kepada kajian tentang pemahaman sifat Allah, yang pertama yang harus diyakini tentang kajian sifat Allah itu adalah bahwa sifat yang dimiliki Allah adalah sifat yang maha sempurna yang tidak dimiliki oleh selain Allah. Karena apabila terjadi persamaan antara sifat yang dimiliki oleh Allah dengan sifat yang dimiliki oleh selain Allah, maka sifat tersebut bukan lagi menjadi sifat Allah, karena Allah tidak bisa dipersandingkan dengan apapun sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran : ” dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” ( QS : 112 : Surat : Al Ikhlash Ayat 04 ) Setelah prinsip dasar tersebut difahami dan diyakini secara sungguh-sungguh dengan hati yang sabar dan ikhlas, baru bisa dilanjutkan dengan kajian tentang sifat-sifat Allah. Bila tidak, kajian tentang sifat-sifat Allah itu akan melahirkan pemahaman yang sesat seperti faham serba Tuhan yang berkeyakinan bahwa semuanya alam ini adalah perwujudan dari zat Tuhan , atau faham yang menyakini bahwa makhluk setelah melewati fase-fase pemahaman tertentu bisa melakukan penyatuan dengan Tuhan dan beberapa pemahaman lain yang dikatagorikan sebagai faham yang menyimpang seperti faham Muttazilah, Wahabi, dll Sekarang kita lanjutkan : Imam Abu Hasan Ali al Asy-ary dan Imam Abu Mansur al Muturidi sebagai pelopor berdirinya faham Ahlul Sunnah Wal Jamaah telah menerangkan sebagai sebuah syariat bahwa sifat Allah itu dikelompokkan menjadi 41 ( empat puluh satu ) sifat dan dikelompokkan lagi menjadi 4 ( empat ) kelompok besar yaitu : ( sudah banyak blog yang membahas masalah sifat-sifat Allah ini, sehingga saya tidak akan melakukan kajian secara rinci tentang masing-masing sifat, tapi lebih kepada hakikat sifat dan pemahaman tentang Zat Allah melalui sifat-sifat-Nya ) 1. Sifat Nafsiah Sifat nafsiyah adalah sifat yang melekat pada Zat Allah. Sifat nafsiyah ini mengakibatkan lahirnya sifat-sifat yang lain. Sifat nafsiyah itu adalah Ujud yang berarti ada. Jika sifat Ujud ini tidak ada pada Zat Allah, maka sifat-sifat yang lain pun menjadi tidak ada, sehingga mustahil Allah itu tidak ada, karena adanya Allah dengan sifat Ujud ini. Jika sifat Ujud ini tidak ada, maka Allah pun menjadi tidak ada. 2. Siaft Salbiyah Sifat Salbiyah cendrung dikatakan sebagai sifat yang membedakan Allah dengan selain Allah, tapi myrazano lebih memahami bahwa sifat salbiyah adalah sifat yang menerangkan sifat nafsiyah karena apabila dinyatakan sebagai sifat yang membedakan antara Allah dengan selain Allah tentunya sifat-sifat Allah yang lain selain sifat salbiyah bisa dipersamakan dengan sifat selain Allah sedangkan zat, sifat dan perbuatan Allah tidak bisa disetarakan sesuatu apapun juga Sifat-sifat salbiyah itu adalah Qidam yang berarti dahulu yang tidak bermula, Baqa, berarti kekal yang tidak berkesudahan atau abadi yang tidak berakhir, sehingga melahirkan sifat Mukhalifatu lil hawaditsi yang berarti tidak sama dengan dengan segala sesuatu. Allah itu bersifat Qiyamuhu binafsihi yang berati berdiri sendiri secara mutlak. Allah tidak membutuhkan apapun atau siapapun juga untuk mengurus urusannya dan juga tidak mau urusannya dicampuri, Selanjutnya dinyatakan bahwa, Allah itu bersifat Wahdaniyah yang berarti Maha Esa atau Maha Tunggal tidak berbilang dengan pengertian bahwa : Allah itu Maha Esa Zat-Nya yang berati Zat Allah itu tidak sama dengan apapun juga Allah itu Maha Esa Sifat-Nya yang berarti Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan yang tidak sama atau dipersamakan dengan sifat selain Allah Allah itu Maha Esa Perbuatan-Nya yang berarti seluruh perbuatan Allah tidak bisa ditiru atau dicontoh oleh siapapun. hanya Allah yang berkuasa untuk melakukan sesuatu Sifat yang tergabung dalam kelompok sifat nafsiyah dan sifat salbiyah ini merupakan dasar utama dari pemahaman tauhid. Apabila sifat-sifat nafsiyah dan salbiyah ini difahami secara salah, maka faham tersebut telah terjerumus kepada pemahaman tauhid yang sesat sebagaimana bebarapa pemahaman yang telah disampaikan diatas Sudah banyak orang-orang alim yang tersesat dalam memahami sifat-sifat Allah ini, sehaingga myrazano sangat menyarankan untuk jangan memaksakan logika dan pemikiran dalam melakukan kajian tentang tauhid. Apabila pada saat itu logika dan pemikiran belum bisa menumbuhkan pemahaman yang benar tentang kajian yang sedang diuraikan. Tinggalkan saja dulu untuk sementara. Tapi jagan berhenti, Ketahuilah bahwa sesungguhnya hukum mempelajari dan memahami tauhid secara benar adalah wajib atau fardhu ‘ain (wajib bagi setiap diri ) karena hanya dengan pemahaman dan keyakinan yang benar seluruh amal dan ibadah yang dilakukan bisa diterima Allah swt, selain dari itu ditolak apabila ibadah tersebut tidak menjadi tambahan dosa. Kalau memungkinkan belajarlah melalui seorang guru atau mursyid yang bebar-benar telah memahami tentang hakikat tauhid yang benar. Jangan sekali-kali belajar pada mursyid ( guru hidup ) yang masih atau sedang mencari-cari hakikat tauhid yang sesungguhnya, karena itu sama artinya dengan membukakan celah yang lebar bagi iblis untuk menyesatkan. Untuk lebih jelasanya silahkan baca pengertian ilmu tauhid pada link ini atau disini Mungkin untuk sementara posting ini dicukupkan sampai disini dulu, karena pada kajian selanjutnya myrazano akan melakukan kajian tentang 2 ( dua ) kelompok sifat Allah selanjutnya yang merupakan pendalaman atau pemahaman lanjutan tentang Hakikat Zat pada Sifat Allah melalui sifat 3). Maani dan sifat 4). Ma’nawiyah. Apabila sampai kajian ini terdapat hal-hal yang kurang bisa difahami dengan baik silahkan penyampaikan pertanyaan melalui kotak komentar yang tersedia, termasuk bantahan, sanggahan atau apapun yang ingin disampaikan, mohon disampikan secara santun dan jangan menyebut nama orang lain yang tidak berhubungan dengan saya . Seluruh pertanyaan, tanggapan, bantahan, sanggahan atau sekedar komentar yang disampaikan, Insya Allah, saya akan berusaha menjawab dan menjelaskannya dengan baik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. karena ilmu Allah itu maha luas dan tanpa batas. Hakikat Dzat pada Sifat Allah. Setelah pada posting sebelumnya telah disampaikan tentang sifat Sifat Nafsiah dan Sifat Salbiyah, pada posting ini kita akan mencoba melakukan kajian tentang Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah sebagai berikut : 3. Sifat Ma’ani Sifat Ma’ani cendrung dikatakan sebagai sifat yag absatrak tetapi myrazano lebih memahaminya sebagai sifat yang membuktikan atau pembuktian ujud Allah, karena dengan sifat ma’ani ini Allah membuktikan sifat ujudnya yang dijelaskan dengan sifat salbiyah ( Qidam, Baqa, Mukhalifatu lil hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah ) yaitu : Hayat berarti Allah itu bersifat hidup Ilmu berarti Allah itu bersifat tahu Qudrat berarti Allah itu bersifat kuasa Irodat berarti Allah itu bersifat berkehendak Sama berarti Allah itu bersifat mendengar Bashor berarti Allah itu bersifat melihat Kalam berarti Allah itu bersifat berkata-kataPembuktian sifat ma’ani sebagai sifat yang melekat pada ujud Allah dapat dibuktikan melalui metoda pemahaman Tauhid Rububiyah yang berarti menyakini keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya yaitu : Karena Allah mempunyai sifat hayat, maka kita bisa membuktikannya pada hidupnya tubuh kita, jika tidak hidup tubuh kita itu, maka tidak terbukti hayatnya Allah, karena hidup tubuh kita itu dengan hayatnya Allah Karena Allah mempunyai sifat ilmu, maka kita bisa membuktikannya pada tahunya hati kita, jika tidak tahu hati kita itu, maka tidak terbukti ilmunya Allah, karena tahu hati kita itu dengan ilmunya Allah Karena Allah mempunyai sifat qudrat, maka kita bisa membuktikannya pada kuasanya tulang kita, jika tidak kuasa tulang kita itu, maka tidak terbukti qudratnya Allah, karena kuasa tulang kita itu dengan qudratnya Allah Karena Allah mempunyai sifat iradat, maka kita bisa membuktikannya pada berkehendaknya nafsu kita, jika tidak berkehendak nafsu kita itu, maka tidak terbukti iradatnya Allah, karena berkehendak nafsu kita itu dengan iradatnya Allah Karena Allah mempunyai sifat sama, maka kita bisa membuktikannya pada mendengarnya telinga kita, jika tidak mendengat telinga kita itu, maka tidak terbukti sama’nya Allah, karena mendengar telinga kita dengan sama’nya Allah Karena Allah mempunyai sifat bashor, maka kita bisa membuktikannya pada melihatnya mata kita, jika tidak melihat mata kita itu, maka tidak terbukti bashornya Allah, karena mendengan telinga kita dengan bashornya Allah Karena Allah mempunyai sifat kalam, maka kita bisa membuktikannya pada berkata-katanya lidah kita, jika tidak berkata-kata lidah kita itu, maka tidak terbukti kalamnya Allah, karena berkata lidah kita dengan kalamnya Allah Dengan pembuktian ujud Allah melalui sifat ma’ani ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa sifat hayat merupakan pokok atau ibu dari sifat yang menjelaskan tentang zat Allah, sehingga tanpa sifat hayat, sifat ujud tidak berarti apa-apa. 4. Sifat Ma’nawiyah Sifat ma’nawiyah merupakan sifat penegasan dari sifat ma’ani dengan pemahaman sebagai berikut : Karena Allah bersifat hayat, maka wajib Zat Allah bersifat Hayun berarti maha hidup Karena Allah bersifat ilmu, maka wajib Zat Allah bersifat Aliman berarti maha mengetahui Karena Allah bersifat qudrat, maka wajib Zat Allah bersifat Qodiron berarti maha kuasa Karena Allah bersifat Iradat, maka wajib Zat Allah bersifat Muridan berarti maha berkehendak Karena Allah bersifat sama’, maka wajib Zat Allah bersifat Sami’an berarti maha mendengar Karena Allah bersifat bashor, maka wajib Zat Allah bersifat Bashiron berarti maha melihat Karena Allah bersifat kalam, maka wajib Zat Allah bersifat Mutakalliman berarti maha berkata-kata Itulah sifat-sifat yang wajib ada pada Zat Allah. Hanya Pada Zat Allah. Selain Allah tidak ada yang memiliki sifat ini, sedangkan sifat-sifat yang mustahil pada Allah adalah kebalikan dari sifat yang wajib ini. ( saya tidak membahas sifat yang mustahil ini ) Sebelum melanjutkan dengan hakikat sifat yang mungkin pada Allah, kembali myrazano menyampaikan bahwa apabila sampai kajian ini terdapat hal-hal yang kurang bisa difahami dengan baik silahkan penyampaikan pertanyaan melalui kotak komentar yang tersedia, termasuk bantahan, sanggahan atau apapun yang ingin disampaikan, mohon disampikan secara santun dan jangan menyebut nama orang lain yang tidak berhubungan dengan SAYA. Seluruh pertanyaan, tanggapan, bantahan, sanggahan atau sekedar komentar yang disampaikan, Insya Allah, saya akan berusaha menjawab dan menjelaskannya sesuai dengan segenap kemampuan. Karena ilmu Allah itu maha luas dan tanpa batas.Sebelum melanjutkan membaca dan memahami kajian Hakikat Zat Pada Sifat Allah pada bagian ini, perlu disampaikan bahwa mulai dari kajian ketiga ini dan kajian-kajian selanjutnya, lebih bersifat pemahaman dan sangat membutuhkan kemurnian pemikiran dari pengararuh nafsu yang menyesatkan. Karena pada kajian ini dan kajian selanjutnya merupakan salah satu kajian inti dari faham tariqat satariyah yang mengklaim bahwa, pemahaman tauhid dari faham satariyah merupakan satu-satunya cara tercepat atau jalan pintas untuk bertemu Allah swt. ( faham tauhid satariyah tidak menyatakan dirinya sebagai bagian dari aliran tariqat yang ada karena sangat bersifat logika dan pemahamannya timbul dari proses pembelajaran sedangkan faham tauhid dari faham tariqat lainnya pemahamannya timbul dari pengamalan ; Kedua metoda ini sah dan sama benarnya, tergantung kesanggupan untuk mengikuti metoda pembelajaran dan pembetukan faham tauhidnya ), sehingga Myrazano sangat menyarankan untuk terlebih dahulu atau kembali membaca dan mempelajari serta memahami kajian-kajian sebelumnya yang berhubungan dengan alasan : 1. Kajian ini sangat membutuhkan pemahaman sehingga apabila hanya sekali baca saja diyakini bahwa pembaca tidak akan mendapatkan apa-apa dari kajian ini, bahkan mungkin saja menyesatkan Aqidah ( bukan alasan Page View atau Alexa Rank). 2. Untuk Hal-Hal yang kurang difahami dan meragukan jangan difahami sendiri, tapi disarankan untuk bertanya kepada para guru di majelis taklim / pengajian masing-masing dan atau sampaikan pertanyaan langsung di kotak komentar sebagai alternatif solusi ( solusi pertama tetap para guru / point pertama ) 3. Yang lebih penting dari pada itu adalah, bahwa yang difahami dalam kajian ini ada sifat Allah swt, bukan zat Allah swt atau hubungan antara sifat dengan zat-Nya. Apabila salah dalam memahami ini, maka akan jatuh kepada pemahaman tauhid sesat yang menyakini bahwa makhluk bisa menyatu dengan zat Allah swt (salah satu keyakinan tauhid dari faham syi’ah ) 4. Ikuti point pertama, point kedua dan point ketiga 5. Mari Kita lanjutkan Kajian Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 3 ) Setelah pada kajian yang lalu difahami bahwa melalui sifat-sifat yang diperkenalkan Allah swt kepada manusia sebagai makhluk, berarti Allah swt telah membukakan satu celah yang sangat lebar bagi kita untuk mengenal zat-Nya secara lebih terang dan nyata, karena melalui sifat.-sifat Allah tersebutlah kita mengenal hakikat zat itu dengan sesungguhnya. Diantara dua puluh sifat yang difahami dalam keyakinan Ahlul sunnah wal jamah terdapat dua sifat utama yang sangat menentukan keberadaan sifat-sifat yang lain. Tanpa dua sifat tersebut, maka keberadaan sifat-sifat yang lain akan tidak berarti, bahkan bisa meniadakan sifat yang lain. Pada kajian ini kita akan melakukan pembahasan tentang sifat yang pertama dari sifat yang menentukan itu, yaitu sifat ujud. Sebagai beriku : Sifat Ujud Ujud adalah sifat yang menandakan keberadaan zat. Tanpa sifat ujud ini, sifat-sifat yang lain akan menjadi tidak berarti bahkan bisa jadi menjadi tidak ada. Sifat ujud difahami melalui sifat-sifat ma’ani, sehingga untuk menjawab bagaimana ujud-Nya Allah ?. sudah bisa dijelaskan melalui sifat-sifat ma’ani ( baca kajian yang lalu ) yang dikelompokkan sebagai berikut : Ujud Zat. Yaitu ujud yang melekat pada zat difahami dengan zat Allah yaitu ujud yang sebenar-benarnya zat pada Allah. Merupakan suatu yang tidak bisa diucapkan tapi secara nyata bisa dirasakan. Seperti rasa manis pada gula, seperti rasa asin pada garam. Hanya bisa dirasakan tanpa bisa terkatakan. Ujud Sifat. Yaitu ujud yang melekat pada sifat zat difahami dengan sifat Allah yaitu terhimpunnya sekalian sifat. Ujud ini dinamakan juga Nur muhammad. Merupakan nyawa atau roh pada diri kita Ujud Af’aal. Yaitu ujud yang melekat pada perbuatan zat difahami dengan perbuatan Allah yaitu ujud yang keberadaannya disebabkan oleh suatu sebab sehingga tidak terjadi dengan sendirinya. Ujud ini dinamakan juga Ujud Adam. Merupakan tubuh pada diri kita Ujud Asma. Yaitu ujud yang melekat pada keimanan difahami dengan beriman kepada Allah yaitu ujud terdapat dalam keyakinan setiap makhluk yang memahami tentang zat Allah. Ujud ini dinamakan juga Ujud iman. Merupakan hati pada diri kita Sehingga pemahaman tentang ujud Allah ini adalah Zat Allah jadi rahasia pada diri Aku. Sifat Allah jadi Nur Muhammad jadi nyawa atau roh pada diri Aku. Perbuatan Allah jadi tubuh pada diri Aku. Nama Allah jadi hati atau iman pada diri Aku. Jadi Bukan Zat melainkan Rahasia Pada Diri Aku. Bukan Sifat melainkan Nur Muhammad Nyawa atau Roh Aku, Bukan Perbuatan melainkan Batang Tubuh Aku. Bukan Asma atau Nama melainkan Keyakinan atau Keimanan Hati Aku. Catatan : Rahasia Diri Insya Allah Akan Disampaikan Pada Kajian-Kajian Selanjutnya Terutama Pada Kajian Hakikat Diri Nur Muhammad Insya Allah Akan Disampaikan Pada Kajian-Kajian Selanjutnya Terutama Pada Kajian Awal Muhammad Demikian kajian tentang Sifat Ujud yang merupakan sifat yang utama dan terutama pada Allah swt. Tanpa bosan untuk menghimbau kepada pengunjung blog Kajian ini Belajarlah Melalui Guru . Kajian Blog ini hanyalah sebagai pelengkap dan sarana pembantu pendalaman materi dan pemahaman. Jika ada yang dirasa kurang jelas karena keterbatasan kemampuan. Silahkan menyampaikan pertanyaan atau sanggahan, bantahan atau apa saja pada kotak komentar yang tersedia. Insya Allah semua pertanyaan tentang kajian ini, saya akan mengusahan untuk menjawab dan menjelaskan sesuai dengan ilmu Allah yang tiada batas yang dilahirkan pada hamba-hamba yang dikehendakinya.Sekarang kita sudah memasuki kajian ke empat dari Hakikat Zat Pada Sifat Allah, tapi kalau dilihat dari awal, kajian keempat ini sudah merupakan kajian keenam yang saling berhubungan dimana sebelumnya telah dibahas Mengenal Allah . Seluruh tanggapan dan komentar tersebut akan kita coba, insya Allah membahasnya satu per satu setelah kajian Hakikat Zat Pada Sifat Allah ini selesai secara tuntas yaitu berhasil mengantarkan seluruh pembaca dan pengunjung blog ini menemui tuhannya masing-masing. Insya Allah Selanjunya dari awal SAYA selalu dan tidak akan pernah bosan mengingatkan bahwa, Kajian Hakikat Zat Pada Sifat Allah ini adalah sebuah kajian yang bersifat pendalaman dari ilmu tauhid yang sangat membutuhkan pemahaman, maka bacalah setiap postingan ini secara berulang-ulang karena kalau hanya sekali baca saja dijamin tidak akan mendapatkan pemahaman apa-apa. Beberapa istilah yang dipakai, mungkin kelihatan asing bagi sebagian orang, karena kajian ini adalah kajian yang sebelumnya bersifat terutup dan dipelajari secara exclusive di berbagai tempat. Itu pun murid-muridnya kebanyakan sudah berusia lanjut. Sehingga belum tentu semua orang pernah belajar dan mempelajari ilmu ini. Sehingga untuk hal-hal yang kurang dimengerti dan difahami sangat disarankan untuk mendiskusikannya di majelis taklim dan pegajian masing-masing dibawah bimbingan para guru yang memahami ilmu taswauf secara baik agar jangan tersesat. Mari Kita lanjutkan kajian kita. Sifat Hayat Sebagaimana yang telah disampikan pada kajian sebelumnya bahwa diantara dua puluh sifat yang difahami dalam keyakinan Ahlul sunnah wal jamah terdapat dua sifat utama yang sangat menentukan keberadaan sifat-sifat yang lain. Tanpa dua sifat tersebut, maka keberadaan sifat-sifat yang lain akan tidak berarti, bahkan bisa meniadakan sifat yang lain. Diantara Dua sifat Allah swt tersebut yang pertama telah disampaikan pada kajian sebelunya yaitu sifat ujud. Pada kajian ini kata akan memahami sifat kedua yaitu sifat Hayat yang berarti hidup. Sifat hayat ini sering juga dinyatakan sebagai ibu dari segala sifat Allah, karena tanpa sifat hayat ini sifat ujud pada zat Allah swt menjadi tidak berati sama sekali, sehingga mustahil sifat-sifat yang lain pada Allah swt bisa dibuktikan. Allah Bersifat Hayat. Artinya Hidup. Allah hidup dengan sifat hayat-Nya. Sehingga dengan sifat hayat itu Allah maha hidup dan wajib bagi Allah untuk selalu hidup ( Hayun / Hayan ). Karena bukti hayat Allah swt tersebut pada hidupnya tubuh kita, maka hakikatnya bukan hidup kita, melainkan hayatnya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan hidup aku melainkan hidup-Nya Allah Allah Bersifat Ilmu. Artinya Mengetahui. Allah tahu dengan sifat ilmu-Nya. Sehingga dengan sifat ilmu itu Allah maha mengetahui dan wajib bagi Allah untuk selalu mengetahui ( Alimun / Aliman ). Karena bukti ilmu Allah swt tersebut pada tahunya hati kita, maka hakikatnya bukan tahu kita, melainkan ilmunya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan ilmu aku melainkan ilmu-Nya Allah Allah Bersifat Kudrat. Artinya Kuasa. Allah berkuasa dengan sifat kudrad-Nya. Sehinga dengan sifat kudrat itu Allah maha kuasa dan wajib bagi Allah untuk selalu berkuasa ( Kadirun / Kadiran ). Karena bukti kudrat Allah swt tersebut pada kuasanya tulang kita, maka hakikatnya bukan kuasa kita, melainkan kudratnya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan kuasa aku melainkan kuasa-Nya Allah Allah Bersifat Iradat. Artinya Berkehendak. Allah berkehendak dengan sifat iradat-Nya ( Maridun / Muridan ). Sehingga dengan sifat iradat itu Allah maha berkehendak dan wajib bagi Allah untuk selalu menghendaki. Karena bukti iradat Allah swt tersebut pada kehendaknya nafsu kita, maka hakikatnya bukan kehendak kita, melainkan iradatnya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan kehendak aku melainkan kehendak-Nya Allah Allah Bersifat Basyar. Artinya Melihat. Allah melihat dengan sifat basyar-Nya. Sehingga dengan sifat basyar itu Allah maha melihat dan wajib bagi Allah untuk selalu melihat ( Basyirun / Basyiran ). Karena bukti basyar Allah swt tersebut pada melihatnya mata kita, maka hakikatnya bukan penglihatan kita, melainkan basyarnya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan penglihatan aku melainkan penglihatan-Nya Allah Allah Bersifat Samik. Artinya Mendengar. Allah mendengar dengan sifat samik-Nya. Sehingga dengan sifat samik itu Allah maha mendengar dan wajib bagi Allah untuk selalu mendegar ( Samiun / Samian ). Karena bukti samik Allah swt tersebut pada mendengarnya telinga kita, maka hakikatnya bukan pendengaran kita, melainkan samiknya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan pendengaran aku melainkan pendengaran-Nya Allah Allah Bersifat Kalam. Artinya Berkata-kata. Allah berkata dengan sifat kalam-Nya. Sehingga dengan sifat kalam itu Allah maha berkata-kata dan wajib bagi Allah untuk selalu berkata-kata ( Mutakalimun / Mutakaliman ). Karena bukti kalam Allah swt tersebut pada berkatanya lidah kita, maka hakikatnya bukan perkataan kita, melainkan kalamnya Allah swt. Pemahamanya adalah Bukan perkataan aku melainkan perkataan-Nya Allah Jadi sampai dengan kajian keempat atau kajian keenam tentang Hakikat Zat Pada Sifat Allah ini sudah bisa sedikit dirasakan bahwa Tidak satu pun yang ada pada diri kita, melainkan hanyalah sifat Allah swt . Dengan pemahaman bahwa Bukan aku melainkan sifat Allah semata-mata Terakhir, sebelum memasuki kajian selanjutnya, saya kembali mengingatkan untuk menanyakan hal-hal yang kurang difahami kepada para guru kita, dan sebagai solusi alternafif, silahkan menyampaikan pertanyaan, saran, tanggapan, kritikan, batahan terhadap seluruh kajian ini pada kotak komentar yang tersedia. atau kirim via email Insya Allah saya akan berusaha menjawab dan menjelaskannya sesuai dengan segenap kemampuan yang ada. .Setelah menyelesaikan kajian tentang sifat ujud dan sifat hayat yang merupakan dua sifat yang utama bagi Allah swt, maka mulai dari kajian ke lima Hakikat Zat Pada Zat Allah ini sesungguhnya kita sudah memasuki kajian kesimpulan dan aplikasi dari pemahaman yang sudah dibahas dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari dan ritualitas ibadah wajib dan ibadah sunnah sebagai pengamalan syariat ajaran agama islam sebagai agama tauhid terakhir. Sebagaimana yang telah disampaikan dalam kajian-kajian sebelumnya bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah swt sebagai tuhan adalah sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah swt saja. Tidak dimiliki oleh makhluknya. Apabila sifat-sifat tersebut terdapat pada makhluk, maka berarti sifat tersebut bukan sifat Allah swt karena Allah swt sebagai tuhan tidak bisa disamakan, tidak bisa disetarakan dengan apapun juga baik itu zat, sifat ataupun perbuatannya. Itulah tauhid yang benar lagi lurus yang kita tidak boleh tersesat didalamnya. Pada kajian sebelumnya juga telah difahami bahwa, dengan pendevinisian dari sifat-sifat Allah swt yang telah dilakukan oleh ulama-ulama Ahlul Sunna Wal Jamaah sebelumnya sesungguhnya telah membuka satu celah kepada kita sebagai makhluk yang berakal untuk mengungkap tentang hakikat dari Allah swt itu secara nyata, karena hubungan antara zat dan sifat adalah hubungan yang saling terkait, dimana keberadaan suatu zat akan bisa diketahui dan dijelaskan melalui sifat-sifatnya dan sifat-sifat yang dikandung oleh zat adalah penggambaran dari zat itu sendiri. Dengan logika sederhana dapat dinyatakan bahwa, dimana ada zat, maka disitulah sifatnya berada dan dimana sifat terlahir, maka disitu juga sesungguhnya zatnya berada Ungkapan atau contoh yang sangat logis dan gampang untuk difahami tentang hubungan antara zat dan sifat adalah dengan memahami sifat dari api. Yaitu Panas, panas merupakan sifat yang dikandung oleh api, dimana panas itu terasa, maka disitulah api itu berada. Apabila semakin panas kita rasakan, maka sesungguhnya semakin dekat kita dengan sumber panas itu yaitu api, sehingga semakin dekat kita dengan api maka kita akan semakin merasakan panasnya api itu. Dan sebaliknya, apabila semakin jauh kita dari api, maka panasnya api akan semakin berkurang kita rasakan. Dimana ada panas disitulah ada api. Panas adalah sifat dan api adalah zatnya. Akibat dari panas yang ditimbulkan akan berbanding lurus dengan jarak yang berhasil dicapai oleh suatu benda dengan sumber panas atau api tersebut. Semakin dekat keberadaan suatu benda dengan sumber panas, maka akan semakin besar panas yang diserap benda dan semakin besar juga panas yang disalurkan benda tersebut kepada benda-benda disekitarnya Semakin jauh keberadaan suatu benda dengan sumber panas, maka akan semakin kecil panas yang diserap benda itu dan semakin kecil juga panas yang disalurkan benda tersebut kepada benda-benda disekitarnya Sehingga ketika tidak ada lagi jarak yang tersisa antara suatu benda dengan sumber panas, maka benda itu dinyatakan berada dalam sumber panas itu, maka benda itu akan terbakar, menjadi bagian bahan bakar yang menyalakan atau menghidupkankan api. Bukan Menjadi Api Kedekatan Allah swt sebagai Tuhan dengan Makhluk pada hakikatnya tidak merubah makhluk menjadi tuhan. Tetapi hanya mempertegas pembuktian atau memperjelas keberadaan sifat Allah swt saja. Pada tataran inilah sebetulnya faham tauhid lebih banyak disesatkan oleh iblis dari golongan jin sehingga terbentuk pemahaman bahwa makhluk bisa menyatu dengan Tuhannya ( untuk yang memahami jin adalah bagian dari iblis ) Dan pada tataran ini jugalah sebagian ahli sihir yang mengaku menguasi atau memiliki ilmu putih ( padahal itu adalah sihir juga ) menekankan pemahamannya, sehingga para iblis yang telah menguasi sihir tertentu menyakinkan kepada para budaknya itu ( tukang sihir ), seolah-olah kehendak penyihir tersebut merupakan iradat-Nya Allah swt, padahal semua itu hanyalah tipuan iblis dari kelompok jin belaka. Telah banyak para alim dan orang-orang yang mengaku sebagai ahli tariqat dan ahli tasawuf terjebak dalam pemahaman ini, sehingga banyak sekali ditemui kelompok-kelopok tariqat dan pengajian tasawuf yang sesat dan menyesatkan pengikutnya seperti pemahaman bahwa, pencapaian maqam tertentu pada keyakinan tauhid yang difahami, telah menggugurkan ikatan hukum syariat padanya. Setiap yang dilakukan adalah Haq atas kehendak Allah swt. Sesungguhnya pemahaman tauhid seperti itu ( dan masih banyak lagi pemahaman tauhid yang tersesat dan atau dianggap sesat ) lebih banyak disebabkan oleh kurang lengkapnya dan tidak sempurnanya pemahaman tauhid yang diyakininya. Sebagian lagi disebabkan dorongan nafsu yang dikendalikan oleh jin yang memang bertugas dan telah mendapat izin resmi dari Allah swt untuk menyesatkan umat manusia yang tidak mampu menguasai dan mengendalikan nafsunya dengan baik. Pada bagian akhir dari kajian Hakikat Zat Pada Sifat Allah pada kajian kelima atau ketujuh ini kembali myrazano mengingatkan jangan berhenti memahami kajian hakikat zat Allah swt melalui sifat-sifat Allah sampai pada kajian ini saja. Pada kajian selanjutnya kita akan mencoba melanjutkan Hakikat Zat Pada Sifat Allah secara lebih mendalam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dan ibadah. Insya Allah. Fahamilah kembali kajian ini dari awal dari secara berulang-ulang. materi kajian yang sudah disampaikan merupakan kajian bersambung dalam satu rangkaian. Kalau hanya memahami satu bagian saja justru bisa menimbulkan kebingungan dan keraguan atau melahirkan pemahaman tanpa dasar yang pada akhirnya menimbulkan fanatisme yang sombong, yang selalu merasa paling benar. Selain dari pemahaman yang diyakininya adalah salah atau dianggap bida’ah. Padahal Kebenaran Yang Sesungguhnya Hanya Milik Allah swt saja. Tugas kita hanya meyakini sebanyak yang kita fahami saja Pahami semua kajian ini secara utuh dan konprehensif dan tanyakan apa-apa yang tidak jelas atau kurang difahami kepada para guru kita yang ada dimajelis masing-masing atau sebagai solusi pertama sampaikan pertanyaan, kritikan, saran, bantahan, sanggahan pada kotak komentar yang tersedia. Insya Allah saya akan mencoba menjelaskan setiap pertanyaan yang timbul dari kajian ini.

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH

 أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله لاَ إِلهَ إلاَّ الله
 merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Ia sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekwensi yang amat besar. Oleh karena itu, Allah gelari kalimat ini dengan “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), sebagaimana dalam firman-Nya: لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ قَدْ تَبَيَّنَ الُّرشْدُ مِنَ اْلغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ اْلُوْثَقى َلااْنفِصَامَ لهَا وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 256) Memahami makna لاَ إِلهَ إِلاَّ الله merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah atas setiap muslim, sebagaimana dalam firman-Nya : فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله “Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan ( yang haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad : 19) Al Imam Al Biqo’i berkata: “Sesungguhnya ilmu tentang (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله) ini merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat (Fathul Majid hal. 54) . لاَ إِلهَ إِلاَّ الله bila ditinjau secara harfiah bermakna : -لاَ (Laa) : Tidak ada, atau tiada -إله (Ilaaha): Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:” اَلإلَهُ adalah Dzat yang diibadahi lagi ditaati. Al Imam Ibnul Qoyyim berkata : اَلإلَهُ adalah Dzat yang hati ini rela untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh kecintaan, pemujaan, kepasrahan, pemuliaan, pengagungan, pengabdian, perendahan diri, ketakutan dan harapan serta penyerahan diri. (lihat Taisirul ‘Azizil Hamid hal.75) إلاَّ- (Illa) : Kecuali, atau melainkan الله- (Allah) : Ibnu Abbas berkata: Allah, Dialah yang mempunyai hak penyembahan dan ibadah atas seluruh makhluk-Nya. (Fathul Majid hal. 19). Adapun bila ditinjau dari rangkaian kata secara utuh, maka maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yaitu : لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله “Tiada sesembahan (Tuhan) yang berhak diibadahi melainkan Allah semata. لاَإِلهَ sebagai nafyu (peniadaan) atas segala apa yang diibadahi selain Allah, إِلاَّالله sebagai itsbat (penetapan) bahwa seluruh ibadah hanyalah milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah ini sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam hal kekuasaan.” Dari penjelasan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas ada suatu permasalahan yang menarik untuk dibahas, yaitu : yang berkaitan dengan makna لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ itu sendiri, dimana muncul suatu tanda tanya : - Mengapa dimaknakan seperti itu ?! Dan mengapa tidak dimaknakan dengan لاَ إِلَهَ مَوْجُوْدٌ إِلاَّ الله “Tiada Tuhan melainkan Allah?” atau لاَ خَالِقَ إِلاَّ الله“Tiada Pencipta melainkan Allah?” - Mengapa ada tambahan بِحقٍّ “ yang berhak”, apakah ada dasarnya ? Adapun tanda tanya pertama, mengapa tidak dimaknakan dengan لاَ إِلهَ مَوْجُوْدٌ إِلاَّ الله “Tiada tuhan melainkan Allah” ? maka jawabnya adalah, karena tidak sesuai dengan realita yang ada, yaitu adanya Tuhan-Tuhan di dalam semesta ini yang diibadahi selain Allah, seperti pohon, batu, manusia dan lain sebagainya. Allah berfirman : ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ ما يَدْعُوْنَ مِن دُوْنِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq (Tuhan yang sebenarnya, yang wajib diibadahi, yang berkuasa dan sebagainya), dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru (ibadahi) selain Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S. Luqman:30). Bahkan Allah sendiri yang mengistilahkan sesembahan-sesembahan selain-Nya itu dengan istilah أَلِهَة”Tuhan-Tuhan” sebagaimana dalam Q.S Huud: 101, Q.S Shaad: 5 dan sebagainya. Tidak pula dimaknakan dengan لاَ خَالِقَ إلاَّ الله “tiada pencipta melainkan Allah”, karena إله dalam kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ini bermakna مَأْلُوْهٌ yang artinya مَعْبُوْدٌ ”yang diibadahi” sebagaimana yang telah lalu dari penjelasan para ulama. Bahkan Allah ? telah menyebutkannya dalam banyak ayat, seperti firman-Nya : أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ اللهَ “Agar kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah.” (Q.S. Huud:2) إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي “Sesungguhnya aku (Ibrohim) berlepas diri dari apa yang kalian ibadahi kecuali Dzat yang telah menciptakanku (Allah).” (Q.S. Az Zukhruf : 26-27) أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ ولاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا “Agar kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun “.(Q.S. Ali Imron : 64) Yang semua ini merupakan tafsiran dari kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ الله dan terkhusus lafadz إله yang darinya diketahui bahwa ia bermakna : مَعْبُوْدٌ “yang diibadahi” bukan “yang ada” atau pun “Pencipta”. Kemudian, bila kita tinjau keadaan orang-orang musyrik Quraisy yang saat itu enggan bahkan menentang untuk mengucapkan لاَ إِلهَ إِلاَّ الله niscaya kita mendapati bahwa mereka telah berikrar bahwa Allahlah yang menciptakan mereka. Allah berfirman : وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيُقُوْلُنَّ اللهُ “Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka :”Siapakah yang menciptakan mereka? niscaya mereka menjawab : “Allah.” (Q.S. Az Zukhruf : 87) Kalau seandainya yang dimaukan dari kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ tersebut suatu ikrar bahwa Allah adalah pencipta, maka tentunya tidak akan ada permusuhan antara mereka dengan Rosululloh, dan tidak akan pula mereka dinyatakan sebagai orang-orang musyrik. Namun disaat kalimat tauhid ini berkonsekuensi untuk meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang diibadahi, maka terjadilah apa yang terjadi antara Rosululloh dengan kaum Quraisy, bahkan antara para Rosul dengan kaum mereka. Allah berfirman : إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيْل لَهُم لاَ إِلهَ إِلاَّ الله يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُواْ ءَالِهَتِنا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan (kepada mereka) : لاَ إِلهَ إِلاَّ الله(tiada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan Allah) mereka menyombongkan diri dan mereka berkata :”ِِApakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” (Q.S. Ash Shooffaat : 35-36) Dia juga berfirman (tentang ucapan orang-orang kafir) : أَجَعَلَ اْلأَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَـْئٌ عُجَابٌ “Mengapa ia (Rosul) menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Q.S. Shaad :5) Dari sini jelaslah bahwa makna لاَ إِلهَ إِلاَّ الله adalah لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله , tidak selainnya. Adapun tambahan بِحَقٍّ atau حَقٌّ, maka berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Luqman : 30 (yang telah lalu) dan juga firman-Nya dalam Q.S. Al Hajj : 6 dan Q.S Al Hajj : 62, ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ … “Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq (Tuhan yang sebenarnya, Yang wajib diibadahi, Yang berkuasa dan sebagainya)…” Demikianlah penjelasan dari kami seputar makna لاَ إِلهَ إِلاَّ الله , semoga penjelasan yang relatif singkat ini dapat membantu kita semua di dalam memahami kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ الله sesuai dengan apa yang di maukan oleh Allah dan Rosul-nya. Tanya – Jawab Tanya : Mengenai dua rukun لاَ إِلهَ إِلاَّ الله (An nafyu dan Al Itsbat) apakah harus selalu beriringan ataukah bisa dipisahkan ? Jawab : Dua rukun ini harus selalu beriringan dan tidak bisa dipisahkan, karena demikianlah yang disebutkan oleh Allah dalam ayat-ayat-Nya, dan juga Rosululloh dalam hadits-hadistnya tatkala menjelaskan tentang konsekuensi yang terkandung dalam kalimat لاَ إِلهَ إِلاَّ الله . Adapun firman-firman Allah itu adalah, beberapa ayat yang telah lalu (Q.S Huud: 2, Q.s Az Zukhruf: 26-27, Ali Imron: 64) dan juga firman-Nya: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِك مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّه لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ “Dan tidaklah Kami utus seorang rosul pun sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tiada Tuhan yang berhak di ibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian semua kepada-Ku”.(Q.S Al Anbiyaa’: 25) وَ لَقَدْ بَعَثْنَا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوْا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) :”Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan jauhilah thaghut itu. (Q.S An Nahl: 36) Rosulullah ? Bersabda: مَنْ وَحَّدَ اللهَ وَ كَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَ دَمُهُ وَ حِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ (رَوَاه أَحْمَد) “Barangsiapa mentauhidkan (beribadah hanya kepada) Allah dan mengingkari segala apa yang diibadahi selain Allah, akan terjaga harta dan darahnya, dan perhitungannya atas Allah “Azza wa Jalla”.(H.R Ahmad) Bahkan Allah menegaskan bahwasanya seseorang tidak akan menjadi baik lagi istiqomah di atas tauhid dan agamanya, kecuali setelah ada padanya dua rukun tersebut.Allah berfirman : فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْـتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَانْفِصَامَ لها “Karena itulah barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (Q.S. Al-Baqarah: 256) Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Barang siapa berlepas diri dari sekutu-sekutu, berhala-berhala, dan segala seruan setan untuk beribadah kepada selain Allah, dan mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan Dia, maka telah tetap dan istiqomah agamanya di atas jalan yang baik lagi lurus”(tafsir Ibnu Katsir Juz I, hal. 294) Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata: :”An Nafyu (peniadaan) saja tidak tergolong tauhid, demikian pula Al Itsbat (penetapan) saja tanpa An Nafyu, dan tidaklah disebut tauhid kecuali di saat mencakup An Nafyu dan Al Itsbat, inilah hakikat tauhid”. (Fathul Majid, hal. 29) Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh berkata: ” Maka لاَإِلهَ إِلاَّ الله menunjukkan adanya keharusan untuk meniadakan peribadatan kepada selain Allah siapun dia, dan menetapkan bahwasanya hak peribadatan itu hanyalah milik Allah semata. Inilah sesungguhnya hakikat tauhid yang di dakwahkan oleh para Rosul dan yang di jelaskan dalam Al Qur’an dari awal hingga akhir”.(Fathul Majid, hal. 54) Berdasarkan keterangan diatas maka jelaslah bagi kita semua bahwa dua rukun لاَإله إلاَّ الله , an nafyu dan al itsbat tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. 
Wallahu ‘A’lam Bish Showaab
Dahulukan La Ilaha ill-Allah Bukan Moralisme أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Assalamualaikum Wr Wb Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bukan bendera lainnya. Padahal dengan mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bangsa Arab bukan saja enggan menerima seruan tersebut, tetapi bahkan menentang dengan keras sampai ke tingkat mengusir dan memerangi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Tidakkah ada pilihan strategi lain yang lebih memperkecil resiko dan mengandung maslahat lebih besar? Misalnya, mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak diarahkan Allah untuk mengibarkan panji Moralisme yang lebih solutif menghadapi problema perilaku bangsa Arab yang saat itu sarat diwarnai kerusakan dan kebejatan? Bila bendera Moralisme yang dikibarkan sejak hari pertama sangat mungkin menghasilkan penerimaan kaum pejuang susila dari kalangan bangsa Arab yang sudah muak menyaksikan tersebarnya kerusakan moral. Perhatikanlahlah tulisan Sayyid Quthb berikut ini: Pada waktu Rasulullah s.a.w. diutus, tingkat kesusilaan di Semenanjung Arab berada dalam titik yang amat rendah dalam banyak seginya, di samping hal-hal yang mulia yang asli baduwi (di perkampungan dan bukan di kota, pent) yang masih ada dalam masyarakat. Ketidakadilan merajalela dalam masyarakat, tergambar dalam kata-kata penyair Zuhair bin Abi Salma : “Siapa yang tidak mempertahankan kolam airnya dengan senjatanya akan diruntuhkan dan siapa yang tidak menganiaya manusia akan dianiaya.” Hal itu digambarkan juga oleh perkataan yang terkenal di zaman jahiliyah: “Tolonglah saudaramu baik ia menganiaya atau dianiaya.” Minuman yang memabukkan dan perjudian telah menjadi tradisi masyarakat yang tersebar luas. Dan menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan. Pelacuran dengan segala bentuknya telah menjadi tanda dari masyarakat ini, sebagaimana keadaannya dalam setiap masyarakat jahiliyah, baik yang kuno maupun yang modern. Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya adalah dalam kekuasaan Muhammad s.a.w. untuk mengumumkan suatu da’wah reforrnasi yang menyangkut dengan perbaikan budi pekerti, pembersihan masyararakat dan pensucian diri. Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya Muhammad shollollahu alaihi wa sallam pada waktu itu dapat menjumpai jiwa-jiwa yang baik yang merasa sakit melihat kekotoran ini, sebagaimana dijumpai oleh setiap reformis susila di setiap lingkungan. Jiwa-jiwa ini dipengaruhi oleh keluhuran dan keinginan untuk memperkenankan seruan reformasi dan pembersihan. Barangkali ada orang yang berkata : Seandainya hal itu diperbuat oleh Rasulullah s.a.w. semenjak dari pertama kali tentulah ia akan diperkenankan oleh sejumlah orang yang baik, yang bersih budi pekertinya, yang suci jiwa mereka, sehingga mereka itu lebih dekat untuk menerima dan memikul aqidah, dan tidak perlu lagi mengobarkan seruan La ilaha illa-llah yang menimbulkan opposisi yang kuat semenjak permulaan jalan. Jelas sekali bahwa saat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diperintahkan Allah untuk berda’wah di Mekkah beliau menghadapi problema kebangkrutan moral di tengah masyarakat. Adalah sangat wajar bila orang mengusulkan agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengawali da’wahnya dengan mengibarkan bendera Moralisme. Artinya bisa saja Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyerukan suatu gerakan reformasi moral, apalagi beliau sendiri terkenal berakhlak mulia. Jika ini dijadikan entry point beliau dalam mengawali da’wah Islam tentulah akan begitu banyak pendukung berbaris di belakang beliau. Bukankah ini jauh lebih kondusif daripada mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah yang hanya menimbulkan kegoncangan dan perlawanan dari kebanyakan bangsa Arab? Lalu mengapa bukan jalan ini yang ditempuh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam? Mengapa beliau malah menempuh jalan yang susah-payah menghasilkan begitu banyak rintangan bahkan repons balik yang keras? Simaklah penjelasan Sayyid Quthb selanjutnya: Tetapi Allah Yang Mahasuci mengetahui bahwa bukan itu jalannya. la mengetahui bahwa akhlak hanya dapat berdiri di atas dasar suatu aqidah yang meletakkan ukuran dan menetapkan nilai : sebagaimana juga menetapkan kekuasaan yang akan menjadi sandaran ukuran dan nilai ini dan pembalasan yang dimiliki kekuasaan ini, dan memberikannya baik ke­pada yang mematuhi maupun kepada yang melanggar. Sebelum aqidah yang seperti ini ditetapkan, dan kekuasaan yang seperti ini ditentukan maka seluruh nilai-nilai akan tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang berdiri di atasnya akan tetap terombang-ambing juga, tanpa pengendalian, tanpa kekuasaan dan tanpa sanksi. Islam merupakan ajaran yang memposisikan aqidah sebagai fondasi sedangkan akhlak sebagai bangunan yang berdiri di atas fondasi tersebut. Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diperintahkan untuk mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah terlebih dahulu bukan panji Akhlak atau Moralisme. Sebab bendera La ilaha ill-Allah yang mencerminkan penancapan fondasi aqidah haruslah didahulukan sebelum berharap masyarakat dapat merubah atau memperbaiki akhlaknya. Sehingga jelas dan tegas Sayyid Quthb menyatakan: ” Sebelum aqidah yang seperti ini ditetapkan, dan kekuasaan yang seperti ini ditentukan maka seluruh nilai-nilai akan tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang berdiri di atasnya akan tetap terombang-ambing juga, tanpa pengendalian, tanpa kekuasaan dan tanpa sanksi.” Bilamana aqidah telah tertancap dengan benar dan lengkap dalam suatu masyarakat maka mereka akan memiliki motivasi yang tidak terkait dengan kepentingan duniawi apapun ketika menegakkan segenap tuntutan aqidah tersebut. Mereka akan menjadikan sesuatu di luar dunia sebagai pendorong utama mereka dalam mewujudkan kelengkapan bangunan Islam di atas fondasi aqidah kokoh tadi. Motivasi tersebut berupa cita-cita menikmati janji Allah di akhirat, yakni: Surga. Hal inilah yang menyebabkan mereka sejak awal rela bersusah-payah mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah walaupun berakibat derita dan permusuhan dari keluarga dan masyarakat mereka sendiri. Inilah yang ditulis Sayyid Quthb selanjutnya: Untuk mendirikan agama ini mereka telah mendapat satu janji, di mana kemenangan dan kekuasaan tidak ikut serta dan bahkan juga tidak bagi agama yang berada di tangan mereka ini, suatu janji yang tidak berhubungan dengan sesuatupun dalam kehidupan dunia ini, sebuah janji, yaitu: sorga. Inilah hanya yang dijanjikan kepada mereka atas perjuangan yang penuh derita dan penderitaan yang pahit, dan terus berda’wah dan menghadapi kejahiliyahan dengan sesuatu hal yang dibenci oleh mereka yang berkuasa di tiap zaman dan di tiap tempat : yaitu: La ilaha illa-llah. Para sahabat tatkala diajak kepada seruan aqidah tidak dijanjikan oleh Nabi suatu kepentingan duniawi apapun. Mereka tidak dijanjikan apapun selain surga di akhirat. Mereka tidak dijanjikan bakal mendapat perbaikan nasib berupa gaji besar atau kedudukan prestisius berupa jabatan formal di tengah masyarakat. Maka pantaslah bilamana istri Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anha melontarkan kalimat sebagai berikut: لو أن أول ما نزل من القرآن لا تشربوا الخمر لقالوا لا والله لا نترك الخمر أبدا و لو كان أول ما نزل من القرآن لا تزنوا لقالو لا و الله لا نترك الزنا أبدا و لكن كان أول ما نزل من القرآن سور المفصل فيها ذكر الجنة و النار حتى ثابت القلوب إلى ربها ثم نزل الحلال و الحرام “Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan minum khamr, niscaya mereka berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan khamr”. Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan berzina, niscaya mereka berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan zina”. Akan tetapi awal yang diturunkan ialah surah-2 detail mengenai surga dan neraka, sehingga hati menjadi teguh mengingat Allah. Barulah kemudian (lambat-laun) diturunkan (daftar perkara) halal dan haram.” Saudaraku, inilah barangkali pokok pangkal masalah di negeri kita dan banyak negeri muslim lainnya. Banyak orang tahu bahwa ada kebangkrutan moral yang berkembang dimana-mana dewasa ini. Namun kita tidak secara konsisten membenahi masalah dari akarnya, yakni pembinaan aqidah. Kita mengira bahwa kerusakan moral dapat diselesaikan hanya dengan mengibarkan bendera gerakan reformasi moral dengan penuh semangat. Kita menyangka bahwa urusan perbaikan moral tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah serta ideologi. Kita tidak sadar bahwa manusia tidak mungkin disuruh mentaati suatu perintah atau menjauhi suatu larangan bila di dalam dirinya belum ada fondasi aqidah serta keyakinan kokoh terhadap fihak yang menjadi sumber perintah dan larangan tersebut. Di sinilah kita lihat mengapa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam secara konsisten di bawah bimbingan wahyu Allah terus mendahulukan pengibaran bendera La ilaha ill-Allah sebelum pengibaran panji Moralisme. Padahal beliau sangat faham bahwa kebangkrutan moral sedang merajalela di tengah masyarakat. Padahal beliau adalah seorang manusia yang dikenal luas memiliki akhlak mulia yang dapat menjadi teladan dalam bidang pembenahan moral dan akhlak. Padahal beliau sangat faham bahwa langkah pengibaran bendera La ilaha ill-Allah merupakan pilihan yang tidak populer di tengah masyarakatnya. Padahal beliau sangat faham bahwa pengibaran panji Moralisme sangat mugkin mendulang simpati masyarakat luas. Saudaraku, prioritas utama da’wah Islam bukanlah memperbanyak pendukung atau konstituen. Walaupun tentunya selaku aktivis da’wah kita pastilah akan sangat gembira bila melihat da’wah Islam memperoleh dukungan banyak orang. Tetapi itu bukanlah prioritas utama. Prioritas utama da’wah Islam ialah memastikan gerakannya berada di atas jalan yang diridhai Allah, jalan yang telah ditempuh oleh teladan utama kita bersama, yaitu jalan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Memang idealnya ialah gerakan da’wah Islam berada di atas jalan yang diridhai Allah sambil memperoleh dukungan banyak orang. Tetapi belajar dari teladan utama kita Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidaklah demikian keadaannya. Setidaknya tidaklah demikian keadaannya saat da’wah berada dalam tahap awal perjuangannya menghadapi kejahiliyahan masyarakat yang masih begitu dominan. Wallahu a’lam bish-showwaab.- Ya Allah, curahkanlah kepada kami rahmat dan ridhaMu selalu. Bimbinglah kami selalu agar berada di atas jalanMu yang benar, jalan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Ya Allah, janganlah dunia menjadi pertimbangan utama kami saat berjuang di atas jalan da’wahMu. Ya Allah, kami mohon kepadaMu surgaMu dan segenap ucapan serta perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari nerakaMu dan segenap ucapan serta perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

April Mop, Balasan Barat Terhadap Muslim Andalusia



April Mop di Barat dikenal dengan The April’s Fool Day. Pada 1 April itu, orang boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan, dengan mengatakan, "April Mop!".

Namun banyak umat Islam yang ikut-ikutan merayakan April Mop ini tidak mengetahui, bahwa April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.

Saat itu terjadi pembantaian ribuan umat Islam di Granada Spanyol di depan pelabuhan. Dengan tipuan akan diberangkatkan ke keluar Andalusia dengan kapal-kapal yang disediakan oleh Ratu Isabella, Muslim Andalusia malah dikonsentrasikan dan dengan mudah dibantai habis dalam waktu sangat singkat oleh ratusan pasukan salib yang mengelilingi dari segala penjuru.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Mereka kebanyakan terdiri atas para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Itulah akhir dari kejayaan Islam di Andalusia. Sebuah peradaban Islam yang dimulai dari perjuangan Tariq Bin Ziyad pada tahun 711 M dan berakhir pada 1487 M. Selama tujuh abad lebih peradaban ini telah menyumbangkan kepada dunia, kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad.

Balasan Barat Terhadap Muslim Andalusia
Namun ada sebuah kisah yang sangat memilukan. Pada 2 Januari 1492, kardinal Devider memasang salib di atas Istana Hamra; istana kerajaan Nashiriyah di Spanyol. Tujuannya sebagai bentuk proklamasi atas berakhirnya pemerintahan Islam di Spanyol.

Kaum Muslimin dilarang menganut Islam, dan dipaksa untuk murtad. Begitu juga mereka tidak boleh menggunakan bahasa Arab, siapa yang menentang perintah itu akan dibakar hidup hidup setelah disiksa dengan berbagai cara. Gereja di masa pemerintahan monarki Raja Ferdianand dan Isabella membuat Dewan Mahkamah Luar Biasa atau yang dikenal dengan Lembaga Inkuisi sebuah lembaga peradilan yang bertugas untuk menghabisi siapa saja orang-orang di luar Katholik. Lembaga ini kemudian bermetamorfosa menjadi Opus Dei.

Empat abad setelah jatuhnya Islam di Spanyol, Napoleon Bonaparte pada 1808 mengeluarkan instruksi untuk menghapuskan Dewan Mahkamah Luar Biasa tersebut. Dan di sinilah kisah ini berawal. Ditulis oleh Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam bukunya At Ta’asub Wat Tasamuh (hal 311-318).

Tentara Prancis menemukan tempat sidang Dewan Mahkamah Luar Biasa itu di sebuah ruang rahasia di dalam gereja. Di sana ada alat alat penyiksaan seperti alat pematah tulang dan alat pengoyak badan. Alat ini untuk membelah tubuh manusia. Ditemukan pula satu peti sebesar kepala manusia. Di situlah diletakkan kepala orang yang hendak disiksa. Satu lagi alat penyiksaan ialah satu kotak yang dipasang mata pisau yang tajam. Mereka campakkan orang orang muda ke dalam kotak ini, bila dihempaskan pintu maka terkoyaklah badan yang disiksa tersebut.

Di samping itu ada mata kail yang menusuk lidah dan tersentak keluar, dan ada pula yang disangkutkan ke payudara wanita, lalu ditarik dengan kuat sehingga payudara tersebut terkoyak dan putus karena tajamnya benda benda tersebut. Nasib wanita dalam siksaan ini sama saja dengan nasib laki laki, mereka ditelanjangi dan tak terhindar dari siksaan.

Inilah jawaban untuk kita, mengapa saat ini, kita tidak menemukan bekas-bekas peradaban Islam yang masih hidup di Spanyol. Seolah-olah tersapu bersih, sebersih-bersihnya. Inilah balasan Barat terhadap Muslim.
Dahulukan La Ilaha ill-Allah Bukan Moralisme أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله Assalamualaikum Wr Wb Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bukan bendera lainnya. Padahal dengan mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah bangsa Arab bukan saja enggan menerima seruan tersebut, tetapi bahkan menentang dengan keras sampai ke tingkat mengusir dan memerangi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Tidakkah ada pilihan strategi lain yang lebih memperkecil resiko dan mengandung maslahat lebih besar? Misalnya, mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak diarahkan Allah untuk mengibarkan panji Moralisme yang lebih solutif menghadapi problema perilaku bangsa Arab yang saat itu sarat diwarnai kerusakan dan kebejatan? Bila bendera Moralisme yang dikibarkan sejak hari pertama sangat mungkin menghasilkan penerimaan kaum pejuang susila dari kalangan bangsa Arab yang sudah muak menyaksikan tersebarnya kerusakan moral. Perhatikanlahlah tulisan Sayyid Quthb berikut ini: Pada waktu Rasulullah s.a.w. diutus, tingkat kesusilaan di Semenanjung Arab berada dalam titik yang amat rendah dalam banyak seginya, di samping hal-hal yang mulia yang asli baduwi (di perkampungan dan bukan di kota, pent) yang masih ada dalam masyarakat. Ketidakadilan merajalela dalam masyarakat, tergambar dalam kata-kata penyair Zuhair bin Abi Salma : “Siapa yang tidak mempertahankan kolam airnya dengan senjatanya akan diruntuhkan dan siapa yang tidak menganiaya manusia akan dianiaya.” Hal itu digambarkan juga oleh perkataan yang terkenal di zaman jahiliyah: “Tolonglah saudaramu baik ia menganiaya atau dianiaya.” Minuman yang memabukkan dan perjudian telah menjadi tradisi masyarakat yang tersebar luas. Dan menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan. Pelacuran dengan segala bentuknya telah menjadi tanda dari masyarakat ini, sebagaimana keadaannya dalam setiap masyarakat jahiliyah, baik yang kuno maupun yang modern. Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya adalah dalam kekuasaan Muhammad s.a.w. untuk mengumumkan suatu da’wah reforrnasi yang menyangkut dengan perbaikan budi pekerti, pembersihan masyararakat dan pensucian diri. Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya Muhammad shollollahu alaihi wa sallam pada waktu itu dapat menjumpai jiwa-jiwa yang baik yang merasa sakit melihat kekotoran ini, sebagaimana dijumpai oleh setiap reformis susila di setiap lingkungan. Jiwa-jiwa ini dipengaruhi oleh keluhuran dan keinginan untuk memperkenankan seruan reformasi dan pembersihan. Barangkali ada orang yang berkata : Seandainya hal itu diperbuat oleh Rasulullah s.a.w. semenjak dari pertama kali tentulah ia akan diperkenankan oleh sejumlah orang yang baik, yang bersih budi pekertinya, yang suci jiwa mereka, sehingga mereka itu lebih dekat untuk menerima dan memikul aqidah, dan tidak perlu lagi mengobarkan seruan La ilaha illa-llah yang menimbulkan opposisi yang kuat semenjak permulaan jalan. Jelas sekali bahwa saat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diperintahkan Allah untuk berda’wah di Mekkah beliau menghadapi problema kebangkrutan moral di tengah masyarakat. Adalah sangat wajar bila orang mengusulkan agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengawali da’wahnya dengan mengibarkan bendera Moralisme. Artinya bisa saja Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyerukan suatu gerakan reformasi moral, apalagi beliau sendiri terkenal berakhlak mulia. Jika ini dijadikan entry point beliau dalam mengawali da’wah Islam tentulah akan begitu banyak pendukung berbaris di belakang beliau. Bukankah ini jauh lebih kondusif daripada mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah yang hanya menimbulkan kegoncangan dan perlawanan dari kebanyakan bangsa Arab? Lalu mengapa bukan jalan ini yang ditempuh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam? Mengapa beliau malah menempuh jalan yang susah-payah menghasilkan begitu banyak rintangan bahkan repons balik yang keras? Simaklah penjelasan Sayyid Quthb selanjutnya: Tetapi Allah Yang Mahasuci mengetahui bahwa bukan itu jalannya. la mengetahui bahwa akhlak hanya dapat berdiri di atas dasar suatu aqidah yang meletakkan ukuran dan menetapkan nilai : sebagaimana juga menetapkan kekuasaan yang akan menjadi sandaran ukuran dan nilai ini dan pembalasan yang dimiliki kekuasaan ini, dan memberikannya baik ke­pada yang mematuhi maupun kepada yang melanggar. Sebelum aqidah yang seperti ini ditetapkan, dan kekuasaan yang seperti ini ditentukan maka seluruh nilai-nilai akan tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang berdiri di atasnya akan tetap terombang-ambing juga, tanpa pengendalian, tanpa kekuasaan dan tanpa sanksi. Islam merupakan ajaran yang memposisikan aqidah sebagai fondasi sedangkan akhlak sebagai bangunan yang berdiri di atas fondasi tersebut. Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diperintahkan untuk mengibarkan bendera La ilaha ill-Allah terlebih dahulu bukan panji Akhlak atau Moralisme. Sebab bendera La ilaha ill-Allah yang mencerminkan penancapan fondasi aqidah haruslah didahulukan sebelum berharap masyarakat dapat merubah atau memperbaiki akhlaknya. Sehingga jelas dan tegas Sayyid Quthb menyatakan: ” Sebelum aqidah yang seperti ini ditetapkan, dan kekuasaan yang seperti ini ditentukan maka seluruh nilai-nilai akan tetap terombang- ambing, dan kesusilaan yang berdiri di atasnya akan tetap terombang-ambing juga, tanpa pengendalian, tanpa kekuasaan dan tanpa sanksi.” Bilamana aqidah telah tertancap dengan benar dan lengkap dalam suatu masyarakat maka mereka akan memiliki motivasi yang tidak terkait dengan kepentingan duniawi apapun ketika menegakkan segenap tuntutan aqidah tersebut. Mereka akan menjadikan sesuatu di luar dunia sebagai pendorong utama mereka dalam mewujudkan kelengkapan bangunan Islam di atas fondasi aqidah kokoh tadi. Motivasi tersebut berupa cita-cita menikmati janji Allah di akhirat, yakni: Surga. Hal inilah yang menyebabkan mereka sejak awal rela bersusah-payah mengibarkan bendera La Ilaha ill-Allah walaupun berakibat derita dan permusuhan dari keluarga dan masyarakat mereka sendiri. Inilah yang ditulis Sayyid Quthb selanjutnya: Untuk mendirikan agama ini mereka telah mendapat satu janji, di mana kemenangan dan kekuasaan tidak ikut serta dan bahkan juga tidak bagi agama yang berada di tangan mereka ini, suatu janji yang tidak berhubungan dengan sesuatupun dalam kehidupan dunia ini, sebuah janji, yaitu: sorga. Inilah hanya yang dijanjikan kepada mereka atas perjuangan yang penuh derita dan penderitaan yang pahit, dan terus berda’wah dan menghadapi kejahiliyahan dengan sesuatu hal yang dibenci oleh mereka yang berkuasa di tiap zaman dan di tiap tempat : yaitu: La ilaha illa-llah. Para sahabat tatkala diajak kepada seruan aqidah tidak dijanjikan oleh Nabi suatu kepentingan duniawi apapun. Mereka tidak dijanjikan apapun selain surga di akhirat. Mereka tidak dijanjikan bakal mendapat perbaikan nasib berupa gaji besar atau kedudukan prestisius berupa jabatan formal di tengah masyarakat. Maka pantaslah bilamana istri Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anha melontarkan kalimat sebagai berikut: لو أن أول ما نزل من القرآن لا تشربوا الخمر لقالوا لا والله لا نترك الخمر أبدا و لو كان أول ما نزل من القرآن لا تزنوا لقالو لا و الله لا نترك الزنا أبدا و لكن كان أول ما نزل من القرآن سور المفصل فيها ذكر الجنة و النار حتى ثابت القلوب إلى ربها ثم نزل الحلال و الحرام “Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan minum khamr, niscaya mereka berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan khamr”. Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah jangan berzina, niscaya mereka berkata “Demi Allah kami takkan meninggalkan zina”. Akan tetapi awal yang diturunkan ialah surah-2 detail mengenai surga dan neraka, sehingga hati menjadi teguh mengingat Allah. Barulah kemudian (lambat-laun) diturunkan (daftar perkara) halal dan haram.” Saudaraku, inilah barangkali pokok pangkal masalah di negeri kita dan banyak negeri muslim lainnya. Banyak orang tahu bahwa ada kebangkrutan moral yang berkembang dimana-mana dewasa ini. Namun kita tidak secara konsisten membenahi masalah dari akarnya, yakni pembinaan aqidah. Kita mengira bahwa kerusakan moral dapat diselesaikan hanya dengan mengibarkan bendera gerakan reformasi moral dengan penuh semangat. Kita menyangka bahwa urusan perbaikan moral tidak ada kaitannya dengan urusan aqidah serta ideologi. Kita tidak sadar bahwa manusia tidak mungkin disuruh mentaati suatu perintah atau menjauhi suatu larangan bila di dalam dirinya belum ada fondasi aqidah serta keyakinan kokoh terhadap fihak yang menjadi sumber perintah dan larangan tersebut. Di sinilah kita lihat mengapa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam secara konsisten di bawah bimbingan wahyu Allah terus mendahulukan pengibaran bendera La ilaha ill-Allah sebelum pengibaran panji Moralisme. Padahal beliau sangat faham bahwa kebangkrutan moral sedang merajalela di tengah masyarakat. Padahal beliau adalah seorang manusia yang dikenal luas memiliki akhlak mulia yang dapat menjadi teladan dalam bidang pembenahan moral dan akhlak. Padahal beliau sangat faham bahwa langkah pengibaran bendera La ilaha ill-Allah merupakan pilihan yang tidak populer di tengah masyarakatnya. Padahal beliau sangat faham bahwa pengibaran panji Moralisme sangat mugkin mendulang simpati masyarakat luas. Saudaraku, prioritas utama da’wah Islam bukanlah memperbanyak pendukung atau konstituen. Walaupun tentunya selaku aktivis da’wah kita pastilah akan sangat gembira bila melihat da’wah Islam memperoleh dukungan banyak orang. Tetapi itu bukanlah prioritas utama. Prioritas utama da’wah Islam ialah memastikan gerakannya berada di atas jalan yang diridhai Allah, jalan yang telah ditempuh oleh teladan utama kita bersama, yaitu jalan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Memang idealnya ialah gerakan da’wah Islam berada di atas jalan yang diridhai Allah sambil memperoleh dukungan banyak orang. Tetapi belajar dari teladan utama kita Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidaklah demikian keadaannya. Setidaknya tidaklah demikian keadaannya saat da’wah berada dalam tahap awal perjuangannya menghadapi kejahiliyahan masyarakat yang masih begitu dominan. Wallahu a’lam bish-showwaab.- Ya Allah, curahkanlah kepada kami rahmat dan ridhaMu selalu. Bimbinglah kami selalu agar berada di atas jalanMu yang benar, jalan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Ya Allah, janganlah dunia menjadi pertimbangan utama kami saat berjuang di atas jalan da’wahMu. Ya Allah, kami mohon kepadaMu surgaMu dan segenap ucapan serta perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari nerakaMu dan segenap ucapan serta perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepadanya. Wassalam Read more at: http://alifbraja.blogspot.com/2012/07/dahulukan-la-ilaha-ill-allah-bukan.html Copyright © ALIFBRAJA|alifbraja.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ