Selasa, 10 Mei 2016



KH Achmad Djazuli
Sang Blawong Pewaris Keluhuran

Dialah Mas’ud, yang mendapat julukan Blawong dari KH. Zainuddin. Kelak dikemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri dan pengasuh I Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.

Diam-diam KH. Zainuddin memperhatikan gerak-gerik santri baru yang berasal dari Ploso itu. Dalam satu kesempatan, sang pengasuh pesantren bertemu Mas’ud memerintahkan untuk tinggal di dalam pondok.
“Co, endang ning pondok!”
“Kulo mboten gadah sangu, Pak Kyai.”
“Ayo, Co…mbesok kowe arep dadi Blawong, Co!”
Mas’ud yang tidak mengerti apa artinya Blawong, hanya diam saja. Setelah tiga kali meminta, barulah Mas’ud menurut perintah Kyai Zainuddin untuk tinggal di dalam bilik pondok. Sejak itulah, Mas’ud kerap mendapat julukan Blawong.
Ternyata Blawong adalah burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu. Si Blawong itu dipelihara dengan mulia di istana Kerajaan Bawijaya. Alunan suaranya mengagumkan, tidak ada seorang pun yang berkata-kata tatkala Blawong sedang berkicau, semua menyimak suaranya. Seolah burung itu punya karisma yang luar biasa.
Ia lahir di awal abad XIX, tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud beruntung, karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.
Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, tak lama berselang Pak Naib, demikian panggilan akrab RM Utsman kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal sebagai murid Kyai Kholil, Bangkalan (Madura).
“Pundi Mas’ud?” tanya Kyai Ma’ruf.
“Ke Batavia. Dia sekolah di jurusan kedokteran,” jawab Ayah Mas’ud.
“Saene Mas’ud dipun aturi wangsul. Larene niku ingkang paroyogi dipun lebetaken pondok (Sebaiknya ia dipanggil pulang. Anak itu cocoknya dimasukan ke pondok pesantren),” kata Kyai Ma’ruf.
Mendapat perintah dari seorang ulama yang sangat dihormatinya itu, Pak Naib kemudian mengirim surat ke Batavia meminta Mas’ud untuk pulang ke Ploso, Kediri. Sebagai anak yang berbakti ia pun kemudian pulang ke Kediri dan mulai belajar dari pesantren ke pesantren yang lainnya yang ada di sekitar karsidenan Kediri.
Mas’ud mengawali masuk pesantren Gondanglegi di Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi tata bahasa Arab dasar (Nahwu) selama 6 bulan.
Setelah menguasai ilmu Nahwu, Mas’ud yang dikenal sejak usia muda itu gemar menuntut ilmu kemudian memperdalam pelajaran tashrifan (ilmu Shorof) selama setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Ia juga sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Hingga akhirnya ia nyantri ke pondok yang didirikan oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk dan pada waktu itu diasuh oleh KH. Zainuddin.
KH. Zainuddin dikenal banyak melahirkan ulama besar, semacam KH. Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am setelah KH. Hasjim Asy’ari), Mas’ud yang waktu itu telah kehabisan bekal untuk tinggal di dalam pondok kemudian mukim di langgar pucung (musala yang terletak tidak jauh pondok).
Selama di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup sangat sederhana. Bekal lima rupiah sebulan, dirasa sangat jauh dari standar kehidupan santri yang pada waktu rata-rata Rp 10,-. Setiap hari, ia hanya makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak. Sungguh jauh dikatakan nikmat apalagi lezat.
Di tengah kehidupan yang makin sulit itu, Pak Naib Utsman, ayah tercinta meninggal. Untuk menompang biaya hidup di pondok, Mas’ud membeli kitab-kitab kuning masih kosong lalu ia memberi makna yang sangat jelas dan mudah dibaca. Satu kitab kecil semacam Fathul Qorib, ia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang lumayan untuk membiayai hidup selama 15 hari di pondok itu.
Setelah empat mondok di Mojosari, Mas’ud kemudian dijodohkan dengan Ning Badriyah putri Kyai Khozin, Widang, Tuban (ipar Kyai Zainuddin). Namun rupa-rupanya antara Kyai Khozin dan Kyai Zainuddin saling berebut pengaruh agar Mas’ud mengajar di pondoknya. Di tengah kebingungan itulah, Mas’ud berangkat haji sekaligus menuntut ilmu langsung di Mekkah.
H. Djazuli, demikian nama panggilan namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. Selama di tanah suci, ia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Namun, ia di sana tidak begitu lama, hanya sekitar dua tahun saja, karena ada kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Wahabi pada tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud.
Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 teman lainnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sampai akhirnya H. Djazuli dan kawan-kawannya itu ditangkap oleh pihak keamanan Madinah dan dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda.
Sepulang dari tanah suci, Mas’ud kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Ploso dan hanya membawa sebuah kitab yakni Dalailul Khairat. Selang satu tahun kemudian, 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk memperdalam ilmu hadits di bawah bimbingan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri.
Tatkala H. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Al-Hadirotusy Syekh sudah tahu siapa Djazuli yang sebenarnya, ”Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja di sini.” H. Djazuli kemudian mengajar Jalalain, bahkan ia kerap mewakili Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diselenggarakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan sebagainya.
Setelah dirasa cukup, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandung Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tak berapa lama kemudian ia pulang ke kampung halaman, Ploso. Sekian lama Djazuli menghimpun “air keilmuan dan keagamaan”. Ibarat telaga, telah penuh. Saatnya mengalirkan air ilmu pegetahuan ke masyakrat.
Dengan modak tekad yang kuat untuk menanggulangi kebodohan dan kedzoliman, ia mengembangkan ilmu yang dimilikinya dengan jalan mengadakan pengajian-pengajian kepada masyarakat Ploso dan sekitarnya. Hari demi hari ia lalui dengan semangat istiqamah menyiarkan agama Islam.
Hal ini menarik simpati masyakarat untuk berguru kepadanya. Sampai akhirnya ia mulai merintis sarana tempat belajar untuk menampung murid-murid yang saling berdatangan. Pada awalnya hanya dua orang, lama kelamaan berkembang menjadi 12 orang. Hingga pada akhir tahun 1940-an, jumlah santri telah berkembang menjadi sekitar 200 santri dari berbagai pelosok Indonesia.
Pada jaman Jepang, ia pernah menjabat sebagai wakil Sacok (Camat). Di mana pada siang hari ia mengenakan celana Goni untuk mengadakan grebegan dan rampasan padi dan hasil bumi ke desa-desa. Kalau malam, ia gelisah bagaimana melepaskan diri dari paksaan Jepang yang kejam dan biadab itu.
Kekejaman dan kebiadaban Jepang mencapai puncaknya sehingga para santri selalu diawasi gerak-geriknya, bahkan mereka mendapat giliran tugas demi kepentingan Jepang. Kalau datang waktu siang, para santri aktif latihan tasio (baris berbaris) bahkan pernah menjadi Juara se-Kecamatan Mojo. Tapi kalau malam mereka menyusun siasat untuk melawan Jepang. Demikian pula setelah Jepang takluk, para santri kemudian menghimpun diri dalam barisan tentara Hisbullah untuk berjuang.
Selepas perang kemerdekaan, pesantren Al-Falah baru bisa berbenah. Pada tahun 1950 jumlah santri yang datang telah mencapai 400 santri. Perluasan dan pengembangan pondok pesantren, persis meniru kepada Sistem Tebuireng pada tahun 1923. Suatu sistem yang dikagumi dan ditimba Kyai Djazuli selama mondok di sana.
Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang ia amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum,”katanya berulangkali kepada para santri.
Hingga akhirnya Allah SWT berkehendak memanggil sang Blawong kehadapan-Nya, hari Sabtu Wage 10 Januari 1976 (10 Muharam 1396 H). Beliau meninggalkan 5 orang putra dan 1 putri dari buah perkawinannya dengan Nyai Rodliyah, yakni KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Chamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah. Ribuan umat mengiringi prosesi pemakaman sosok pemimpin dan ulama itu di sebelah masjid kenaiban, Ploso, Kediri.
Konon, sebagian anak-anak kecil di Ploso, saat jelang kematian KH. Djazuli, melihat langit bertabur kembang. Langit pun seolah berduka dengan kepergian ‘Sang Blawong’ yang mengajarkan banyak keluhuran dan budi pekerti kepada santri-santrinya itu.



Kyai Mbah Dahnan (Syekh Abdul Hannan)

Tiga Pelajaran Berharga Dari Kyai "Nyleneh"

Di daerah Tambak Ngadi, Kediri, Jawa-Timur terdapat suatu kompleks makam auliya’. Kata auliya’ adalah bentuk jamak dari wali, waliyun atau wakil Allah SWT dalam melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW. Mereka yang dimakamkan di kompleks ini adalah orang-orang yang berjuang seluruh hidup mereka di jalan Allah untuk mengibarkan syi’ar islam.

Di salah satu bagian dari kompleks tersebut terdapat makam dari Syekh Abdul Hannan atau yang lebih dikenal dengan Mbah Dahnan.

Semasa hidupnya beliau adalah sosok kyai yang terkenal dengan gaya hidup yang nyleneh (aneh). Beliau mendirikan sebuah pondok pesantren di daerah Trenggalek, Jawa-Timur. Pondok pesantren itu semasa hidupnya tidak ia beri nama apapun. Santrinya pun tidak banyak, beliau sangat mementingkan kualitas santrinya dibanding kuantitas.

Pelajaran Pertama

Beliau hidup sangat sederhana, rumahnya hanya berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah. Beliau tak pernah makan nasi. Beliau hanya makan singkong, tanaman yang tumbuh subur di Trenggalek. Kadang-kadang beliau makan singkong dengan sate ayam tapi itu tidak ia lakukan setiap hari. Dalam seminggu masih dapat dihitung berapa tusuk sate yang ia makan. Satu-satunya barang yang paling berharga yang ia miliki adalah Perkutut Putih. Beliau sangat menyayangi Perkutut tersebut, karena bentuknya yang indah dan suaranya yang merdu, dan tentu saja karena Perkutut Putih itu sangat langka sehingga menjadi incaran para kolektor untuk membelinya dengan harga yang tinggi.

Berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu santrinya, almarhum adalah salah satu sosok yang tak ada tandingannya dalam perilaku ridho, ikhlas dan sabar. Pernah pada suatu pagi, ketika almarhum beserta para santri sedang bekerja di ladang yang tak terlalu jauh dari rumahnya, sang santri melihat ada seseorang yang hendak mencuri Perkutut Putih kesayangan Kyai. Melihat hal tersebut, sang santri langsung melaporkan kepada Mbah Dahnan yang berada tak jauh dibelakangnya. Namun Mbah Dahnan justru menarik tangan santrinya, dan menyuruh untuk bersembunyi di balik semak-semak. Sang santri bertanya kepada Mbah Dahnan, mengapa kita harus bersembunyi? Beliau kemudian memberitahu sebab mereka semua disuruh bersembunyi sementara melihat si pencuri melakukan aksinya, karena beliau merasa kasihan kepada si pencuri, bisa saja si pencuri itu malu dan mengurungkan niatnya untuk mencuri bila ketahuan oleh mereka.

Walaupun Perkutut Putih itu adalah satu-satunya hewan peliharaan paling berharga yang Mbah Dahnan miliki, karena selain langka dan suaranya yang merdu, harganya pun terhitung sangat mahal. Sudah banyak orang menawarkan uang puluhan juta untuk membeli Perkutut Putih tersebut, namun Mbah Dahnan tak pernah mau memberikannya. Tapi di saat ada seseorang mencuri Perkutut putih tersebut, beliau ridho dan ikhlas karena Allah SWT. Beliau tampaknya mengetahui bahwa maling tersebut lebih membutuhkan Perkutut putih kesayangannya dibanding dirinya atau kolektor yang sudah menawarkan harga puluhan juta kepadanya. Beliau pun sangat menyadari bahwa maling itu hanyalah wasilah dari Allah. Dan apapun yang Allah kehendaki atas dirinya itulah yang terbaik menurut ilmu Allah.

Pelajaran Kedua

Cerita selanjutnya adalah disaat beliau kehilangan anak pertamanya dan laki-laki satu-satunya saat itu. Di saat anaknya meninggal karena sakit panas, istrinya menangis, dan para santrinya bersedih. Namun Mbah Dahnan justru memuji Allah dan mendendangkan shalawat. Beliau dengan tenang mengafani sendirian kemudian melakukan shalat jenazah bersama para santri-santrinya.

Siapa yang akan rela kehilangan anak laki-laki semata wayangnya ? Namun bila menurut Allah itu yang terbaik, maka beliau pun ridho karena Allah memberikan hadiah yang tak ternilai baginya.

Anak laki-laki yang diambil oleh Allah belum memiliki dosa apapun, sehingga baginya tentu akan mendapatkan surga. Beliau sangat bangga karena memiliki anak yang kelak menjadi penghuni surga. Dan barang siapa yang ridho atas ketentuan Allah dengan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji’un maka akan dibangun rumah baginya di surga.

“Apabila meninggal anak seorang hamba, maka Allah SWT berkata kepada malaikat: Apakah kamu telah mencabut roh putra hambaKu. Jawabnya: Ya. Apakah kamu telah mengambil buah hatinya ? Jawabnya: Ya, benar. Maka Allah berkata: “Lalu apa yang diucapkan oleh hambaKu?. Malaikat berkata: “Dia memuji-Mu dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Maka Allah SWT berkata: “Bangunkan untuk hambaKu tersebut sebuah rumah di surga dan beri nama tempat itu Baitul Hamdi”. (H.R. Turmudzi, dia berkata: Hadis Hasan)

Setelah kematian anak laki-lakinya tersebut, akhirnya beliau diberikan anugrah oleh Allah untuk memiliki 5 orang anak.

Kejadian Ketiga

Kejadian yang paling teringat oleh seluruh santri Mbah Dahnan adalah ketika pesantren yang baru saja mereka bangun dengan susah payah mengalami kebakaran. Di saat para santri sibuk dan panik memadamkan api yang melalap pesantren tersebut, Mbah Dahnan justru menari-nari sambil tak henti-hentinya dari mulutnya memuji Allah dan bershalawat. Akhirnya tak ada yang dapat terselamatkan dari pesantren yang baru mereka bangun. Seluruhnya telah hangus terbakar oleh api. Setelah kejadian tersebut, Mbah Dahnan berserta seluruh santrinya justru mengadakan acara syukuran atas kejadian tersebut.

Hal luar biasa yang dapat kita petik dari beliau adalah, sifat ridho, ikhlas dan sabarnya. Beliau benar-benar yakin bahwa apapun yang diberikan Allah saat ini adalah yang terbaik. Musibah dalam bentuk nikmat dan bencana adalah hal yang pasti terbaik menurut Allah, untuk itulah ia selalu mengucapkan syukur tak terhingga kepada-Nya atas apapun yang terjadi saat itu.

Dan memang, tak beberapa lama setelah kejadian kebakaran tersebut, beliau mendapatkan bantuan untuk mendirikan pondok pesantren yang lebih besar dari pada pondok pesantren terdahulu.

“Dunia itu menjijikkan”. Kalimat itulah yang paling sering Mbah Dahnan ucapkan di saat beliau masih hidup. Kalimat tersebut sangat membekas di kalangan santrinya. Karena logika duniawi “tak kan pernah nyambung”, dibanding dengan ilmu Allah yang sedemikian luasnya.

Tingkatan kita mungkin sangat jauh dibanding beliau, namun dengan membaca kisah hidupnya diatas, insya Allah ada hal yang dapat kita petik untuk dikemudian hari. (http://mutiaradibalikmusibah.blogspot.com)

PONDOK Pesantren Sekar Putih yang ada di Dukuh Wedegan, Desa Sekar Putih Kecamatan Bagor, Nganjuk adalah salah satu pondok tertua nomor dua setelah Ponpes Mojosari, Loceret. Pondok pesantren yang berdiri sejak tahun 1890 itu didirikan oleh KH Abdul Rohman Kharim yang terkenal linuwih mempunyai kelebihan ilmu kanuragan dengan sebutan ilmu condromowo. Dan itu sudah diakui oleh kalangan kiai sepuh di Jawa Timur. Bahkan sampai di luar pulau Jawa pada masa penjajahan kolonial Belanda dan Jepang.

Konon menurut cerita saksi sejarah yang bersumber dari cucu KH Abdul Rohman Kharim, yaitu Gus Hanif putra Kiai Abu Khakim Abdul Rahman, putra bungsu KH Abdul Rohman Kharim yang sekarang memangku Ponpes Sekar Putih menuturkan, bahwa kelebihan yang dimiliki kakeknya itu sempat menjadi perhatian tokoh nasional pada waktu itu.

Menurut Gus Hanif banyak kalangan pejabat negara pada masa penjajahan yang berdatangan ke Ponpes Sekar Putih hanya sekedar mencari kekebalan dari kakeknya. Pada waktu itu, cerita dia, Presiden RI pertama Soekarno juga pernah sowan untuk diijazahi oleh kakeknya. Setelah sepeninggalan kakeknya di usianya yang hampir satu abad itu, kini diteruskan oleh bapaknya yaitu Kiai Abu khakim Abdul Rohman.

Nuansanya tidak beda jauh dengan kakeknya pada waktu itu, selalu didatanggi oleh pejabat negara, tokoh budayawan dan tokoh agama. Keunikan yang dimiliki pengasuh Ponpes Sekarputih sekarang ini yaitu Kiai Abu Khakim Abdul Rohman atau akrab disapa Mbah Khakim sering mengadakan pertemuan lintas agama. Bahkan pernah ngaji di tempat ibadah berlainan agama seperti di Pura, Gereja, Wihara serta klenteng.

“Pokoknya Mbah Khakim tidak membedakan umat beragama. Yang penting tetap punya prinsip pada akidah dan syariat Islam. Urusan keyakinan tidak bisa dipaksakan. Karena itu urusan vertikal antara umat dan Sang Pencipta,” tutur Gus Hanif mewakili Kiai Abu Khakim yang sekarang masih terbaring sakit dan tidak bisa diwawancarai.

Santri laki-laki yang mondok di Ponpes Sekar Putih tetap mengenyam pelajaran kitab kuning yang kesehariannya dikaji di Masjid pondok Sekar Putih dan angkrik tempat mengaji peninggalan sejak berdirinya pondok dan sampai sekarang tidak berubah bentuk. Kitab kuning yang dikaji seperti kitab tafsir, Riadus Sholikin, Taqrib, Tajwid, Tasawuf dan masih banyak lagi jenisnya semua diajarkan di Ponpes Sekar Putih. (adi mulyadi)



KYAI HAJI DIMYATHI ‘KHOSSUN’

A. LINGKUNGAN KELUARGA
Kyai Haji DIMYATHI, dilahirkan pada tahun 1875, di Dusun kauman desa campurdarat kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung. Beliau adalah putra ke 6 dari sepuluh orang putra-putri Mbah Zayadi dan ibu Warisah, yaitu Mirah, Hindun, Khodijah, Klumpuk, Sulbiyah, Katminah, Mariam dan Kasmi. Pada waktu dilahirkan oleh kedua orang tuanya beliau diberi nama Khossun, dengan makna Khos: Kedudukannya dan Sun: perbuatan atau tingkah lakunya.

Khossun lahir dilingkungan keluarga yang religius dan taat menjalankan agama. Sebagaimana umumnya penduduk di wilayah dusun kauman masa itu. Pekerjaan Khossun adalah bertani demikian pula orang tua Khossun, hanya yang membedakan dari warga masyarakat yang lain adalah, Mbah Zayadi memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap berkembangnya agama islam di lingkungannya, oleh karena itu tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa beliau merupakan salah satu pemimpin masyarakat yang sangat disegani pada masanya.
Hidup dilingkungan tersebut memudahkan khossun dan saudara-saudaranya untuk memperoleh dasar-dasar agama Islam. Sejak kecil kedua orang tunya telah menanamkan nilai-nilai islam pada Khossun dan saudara-saudaranya. Waktu itu khossun dan saudara-saudaranya menerima pelajaran membaca alqur’an dari lingkungan keluarga, sebelum mereka meninggalkan keluarga untuk mencari ilmu ke pondok pesantren.
Khossun menikah dengan putri dari Desa kalirong Kecamatan Gringging Kabupaten Kediri yang bernama Syufi’ah binti KH. Abdulloh Hasyim (Abdul Jalal), saat itu beliau baru saja menyelesaikan pendidikan di di pondok pesantren Nduwu Nganjuk. Disaat pernikahan, Khossun tidak berangkat dari rumah di campurdarat, akan tetapi beliau justru berangkat dari pondok Klumpit hal itu disebabkan oleh kepercayaan mbah Zayadi pada sang kyai/ guru mbah Dimyati.
Setelah menikah beliau membeli tanah di Tegalarum-Kertosono. Tetapi baru tinggal selama 3 bulan di Tegalarum, Beliau menerima salah satu utusan dari mbah Zayadi yang bernama Mangun. Mangun menyampaikan pesan kedua orang tuanya, yang intinya bahwa Khossun tidak diperkenankan untuk mendirikan pondok di Tegalarum dan diminta untuk mengembangkan pendidikan Islam di daerah kelahiranya yaitu Campurdarat. Menurut Mangun, larangan dari kedua orang tuanya tersebut dikarenakan Khossun dianggap sebagai satu-satunya putra dari Mbah Zayadi yang mempu meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau dalam mengembangkan Islam.
Sekitar tahun 1918 Khossun kembali ke Campurdarat, oleh orangtunya dibelikan sebuah rumah yang berupa balai dari dusun Cerme Desa Gamping Kecamatan Campurdarat, Balai tersebut merupakan bekas milik seorang pemain jaranan, kemudian balai itu oleh Khossun di fungsikan untuk langgar/ surau, ditempat itulah Khossun mulai mengumandangkan Islam di tanah kelahirannya di Campurdarat.
Pada tahun 1918 Khossun bersama istri melaksanakan ibadah Haji ke baitulloh dan berganti nama dari Khossun menjadi Dimyathi sebagaimana yang diamanatkan gurunya KH. Dimyathi dari Tremas Pacitan.
Dari pernikahannya dengan Syufi’ah, Khossun memiliki putra-putri sebanyak 10 orang, yaitu Muti’ah, Moh. Syamsudin, Fathonah, Imam Mawardi, Musrifatin, Suparti, Syamsul Mu’adzom (meninggal pada usia kanak-kanak), Musrifah, Rodiyah dan Nurhadi. Saat ini putra-putri beliau tinggal dibeberapa kota di Jawa Timur. Sebagai penerus perjuangan beliau dalam mendidik masyarakat dengan nilai-nilai Islam di Campurdarat saat ini diemban oleh Mohammad Syamsudin .
B. PERJALANAN PENDIDIKAN
Sejak masa kecilnya Khossun belajar Al qur’an pada keluarganya di Campurdarat, Selanjutnya beliau menuntut ilmu pada mbah Mesir di Durenan-Trenggalek, setelah menyelesaikan ngaji pada mbah Mesir beliau melanjutkan nyantri pada KH. Dimyathi Tremas, beliau disana selama 6,5 tahun. Pada saat di tremas inilah, suatu ketika Khossun dipanggil oleh gurunya yakni KH. Dimyathi dengan maksut meminta agar Khossun mengganti nama yang sama dengan dirinya yaitu DIMYATHI. Mendengar perintah dari Gurunya Khossun tidak berani menolak, namun beliau menyatakan kepada KH. Dimyathi bahwa. dirinya berkenan memakai nama Dimyathi jika sudah berhasil sampai di Makkah untuk menunaikan ibadah Haji.
Perjalanan pendidikan Khossun tidak hanya berhenti di Tremas, seteleh masa nyantri di Pondok Tremas dianggap cukup, Khossun melanjutkan ke Pondok Tragal-Jawa Tengah. Dari Tragal Khossun kemudian berguru pada KH. Kholil – Bangkalan – Madura. Menyelesaikan pendidikan di Madura, khossun lalu berguru pada KH. Zainudin di Mojosari-Nganjuk. Usai dari mojosari Khossun meneruskan mencari ilmu pada KH. Marwah di Mangunsari Nganjuk.
Merasa belum cukup bekal untuk mengemban amanat kholifatullah fil Ardl, khossun kembali meninggalkan kota kelahirannya untuk menambah bekal pengetahuan melanjutkan mondok di pondok pesantren Sekar putih-Nganjuk, setelah menyelesaikan pendidikan di Sekar Putih beliau meneruskan ngaji di pondok Klumpit Nganjuk. Dari Klumpit beliau melanjutkan lagi di Pondok Pesantren Lirboyo yang diasuh oleh KH. Abdul Karim, saat itu jumlah santri masih 8 orang.
Ketika menjadi santri dari KH. Abdul Karim Lirboyo, Khossun juga ikut belajar / merangkap belajar di pondok Banjar Mlati dan di Pondok Jamsaren Kediri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Lirboyo Khossun lalu melanjutkan belajar di pondok pesantren Nduwu pada tahun 1917. Mulai saat itulah Khossun mulai mengembangkan ilmunya di Pondok Klupit dan dinikahkan dengan seorang putri dari Kalirong yang bernama Syufi’ah binti KH. Abdulloh Hasyim (Abdul Jalal)
Selama menempuh pendidikan dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain, selalu saja ada kisah yang membuat Khossun dinilai sebagai santri yang memiliki keistimewaan. Pernah ketika menjadi santri di Pondok pesantren Mojosari- yang diasuh oleh KH. Zainudin, Setiap sang guru mulai membuka kitab untuk diajarkan kepada santri-santrinya di masjid, pada saat yang sama Khossun mulai mengerubuti dirinya dengan kain jarit (kemulan jarek) pemberian orang tuanya, dan tidur di depan dampar tempat KH. Zainudin mbalah kitab. Melihat perilaku tersebut KH. Zainudin tidak marah, beliau membiarkan saja tingkah laku Khossun, tak ayal lagi perbuatan itu membuat santri-santri yang lain menjadi gelisah. Tetapi mereka tidak hendak mencela Khosun, apalagi saat melihat kitab-kitab yang dimiliki Khosun, ternyata kitab-kitab yang telah diajarkan oleh KH. Zainudin milik khosun tidak ada satu kata pun yang terlewat maknanya. Wallahua’lam.
C. PERJUANGAN DAN KEPEMIMPINAN
Tahun 1918 Khosun meninggalkan pondok pesantren, dan menetap di desa tegal Arum bersama isterinya. Tetapi Kedua orang tuanya meminta untuk kembali ke Campurdarat. Di Campurdarat beliau tinggal di rumah bekas milik seorang pegiat seni jaranan yang telah dibeli oleh orangtuanya. Di tempat itulah, Khossun mulai mengabdikan ilmu pengetahuannya pada masyarakat sekitar. Dimulai dengan merubah fungsi bale miliknya menjadi Langgar, KH. Dimyathi mengajarkan ilmu-ilmu agama islam pada orang-orang disekitar rumahnya. Dalam kehidupan sehari-hari beliau ta’dzim dengan siapapun walaupun itu cucunya sendiri. Hal itu berlangsung hingga Tahun 1955, pada tahun itu beliau masih ngaji sampai selesai (khatam) tiga kitab yaitu Al Qur-an, Fatkhul wahab dan Bughiyah. Sejak tahun 1957 beliau uzlah (mengasingkan diri) untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
D. WAFAT KH. DIMYATHI
Setelah beliau melaksanakan uzlah selama 17 tahun dan tidak aktif lagi untuk melakukan pembinaan kepada santri dan masyarakat sekitar, seluruh aktifitas pembinaan diserahkan kepada putranya K. Moh. Syamsudin.
Pada tahun 1974 beliau KH. Dimyathi wafat dan dimakamkan di dusun Kauman Desa Campurdarat (dibelakang Masjid Daruttaibin Campurdarat), masyarakat Campurdarat dan sekitarnya menyebut makam mbah wali campur ada juga yang menyebut mbah wali Dimyathi. Wallohu a’lam.
http://daruttaibin.wordpress.com/2008/02/20/riwayat-kyai-haji-dimyathi